Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Berkah Lain dari Penyusutan Air Danau Rawapening

Senin 08 Jul 2019 18:13 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq

 Warga membersihkan akar gulma dan ganggang yang telah mati di area genangan danau Rawapening yang mengalami penyusutan, wilayah Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Warga membersihkan akar gulma dan ganggang yang telah mati di area genangan danau Rawapening yang mengalami penyusutan, wilayah Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Foto: Bowo Pribadi.
Lahan bekas genangan tersebut dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Penurunan elevasi (ketinggian) air Rawapening yang masih berlanjut, membuat kawasan genangan danau alam ini terus mengalami penyusutan. Hal ini ditandai dengan munculnya daratan baru, seperti di wilayah Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kendati penyusutan air ini menjadi persoalan bagi mereka yang membudidayakan ikan di karamba, sebagian warga yang berada di sekitar danau alam tersebut justru memanfaatkan daratan baru ini untuk menanam padi. Bahkan di antara mereka merupakan warga yang selama ini menggantungkan hidup dari mencari ikan di danau Rawapening.

Amir (34 tahun), salah seorang warga Dusun Sumurup mengungkapkan, musim kemarau seperti sekarang ini juga menjadi musim paceklik bagi warga yang setiap hari menggantungkan hidup dengan menangkap ikan di Rawapening. Karena pada musim kemarau air danau tersebut elevasinya akan menurun drastis.

Sehingga untuk menangkapi ikan, mereka harus bersampan lebih jauh ke tengah danau atau mencari kawasan genangan yang masih dalam. Namun area tangkap mereka juga kian terbatas, karena kawasan tersebut juga menjadi tujuan penangkap para ikan lainnya di danau Rawapening ini.

“Artinya, di mana masih ada tempat yang dalam untuk menangkap ikan, semua pasti akan menuju ke sana. Sehingga bisa dikatakan, kawasan tangkapan ikan semakin terbatas, namun yang menangkap semakin banyak (keroyokan),” jelasnya, saat dikonfirmasi di kawasan Dermaga BIru, Dusun Sumurup, Senin (8/7).

Dengan adanya penyusutan air dan munculnya daratan baru ini, lanjut Amir, maka sebagian warga, yang sebelumnya mengandalkan hidup dari mencari ikan di danau Rawapening, kini memilih menanam padi, dengan memanfaatkan lahan bekas genangan air danau tersebut.

“Sudah satu bulan terakhir, genangan air  Rawapening yang berada di wilayah Dusun Sumurup ini menyusut tajam dan dasar danau yang muncul tersebut kemudian dibuat untuk menyemai benih padi sekaligus ditanami oleh sebagian warga,” tambahnya.

Perihal ini juga diamini oleh Sukarman (52), salah seorang warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa. Sejak satu bulan terakhir, area genangan Rawapening yang ada di desanya juga mengalami penyusutan. Sehingga lahan bekas genangan tersebut dimanfaatkan untuk bercocok tanam. 

Ia juga mengamini, sebagian warga yang memanfaatkan lahan bekas genangan danau untuk bercocok tanam ini, merupakan mereka yang sebelumnya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan di Rawapening. “Daripada menangkap ikan hasilnya tidak menentu, mereka memilih menanam padi dan berharap bisa meraup untung pada saat panen nanti,” tambahnya.

Kendati begitu, bukan persoalan yang mudah bagi warga sekitar Rawapening ini untuk menjadikan area bekas genangan danau Rawapening untuk bercocok tanam padi. Mereka juga membutuhkan waktu untuk membalik tanah agar bisa ditanami. Selain itu juga harus membersihkan akar gulma atau mupun ganggang terlebih dahulu.

Menurutnya, sebelum bisa ditanami benih padi, lahan bekas genangan danau ini biasanya penuh dengan akar-akar gulma (khususnya enceng gondok), akar maupun ganggang mati, dan lainnya. “Setelah lahan bekas genangan tersebut benar-benar bersih, baru bisa ditanami dengan benih padi,” jelas Sugeng (48), warga lainnya.

Sehingga, lanjutnya, untuk bisa memanfaatkan lahan bekas genangan danau  yang telah menyusut tersebut justru ‘dua kali kerja’. Setelah dibersihkan baru dibalik tanahnya untuk selanjutnya baru bisa ditanami. “Tetapi bercocok tanam ini jauh lebih menjanjikan ketimbang masih mencari ikan di tengah Rawapening,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan Kabupaten Semarang, Wigati Sunu mengungkapkan, terkait dengan penyusutan air atau penurunan elevasi air Rawapening memang ada perubahan pola warga di sekitar danau Rawapening dari yang semula menangkap ikan beralih bercocok tanam, walaupun tidak semuanya.

Mereka biasanya memanfaatkan kahan bekas genangan danau yang selalu basah tersebut untuk bercocoktanam. Dengan usia tanaman padi yang hanya membutuhkan waktu tiga bulan, warga umumnya berharap bisa panen padi sebelum musim hujan tiba dan kawasan tersebut tergenang kembali. “Di sekitar danau Rawapening, pola warganya seperti itu,” jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA