Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Mengelola Potensi Diri

Rabu 10 Jul 2019 19:49 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
As-Syakwa Wa Al-Itab mengawali bahasan dengan bab teguran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengelolaan potensi internal yang ada pada diri seseorang tentunya membutuhkan keterampilan lewat proses panjang dan tempaan yang berkesinambungan, terutama mengoptimalkan energi positif dan mengubah daya negatif menjadi sebuah kekuatan dahsyat.

Abu Manshur Abd al-Malik bin Muhammad bin Ismail menulis sebuah karya yang berkenaan dengan pengelolaan potensi yang ada pada diri seseorang. Melalui kitab yang berjudul as-Syakwa Wa al-Itab Wama Waqa li al-Khillan wa al-Ashhab, tokoh kelahiran Nisabur, Iran, tersebut mencoba mengupas topik-topik itu. Guna mendukung ulasannya itu, sosok yang lebih dikenal dengan panggilan ats-Tsa'alabi tersebut mengonsep tulisannya secara sederhana.

Kesederhanaan itu tampak di 10 bab utama yang menjadi bahasan kitab ini. Ats-Tsa'alabi cukup menukil hadis, perkataan-perkataan tokoh, dan syair-syair yang berkorelasi langsung dengan tema yang ia bahas.

Bahkan, pada sejumlah kesempatan, ia mengutip teks-teks keagamaan yang terdapat di kitab suci Nasrani, yaitu Injil. Hampir tak ditemukan sama sekali komentar-komentar dan analisis yang ditampilkan oleh penulis.

Selain itu, pemilihan tema di setiap babnya pun dipilih secara acak. Jika beberapa buku raqaiq dan zuhd yang memuat etika-etika ibadah dan sosial kebanyakan diawali dari pembahasan hati ataupun niat, tetapi di kitab ini ats-Tsa'alabi lebih memilih mengawali uraiannya pada bab pertama mengenai tradisi teguran dan aduan oleh seseorang. Di bab ini, tokoh kelahiran 350 H/961 M ini menyodorkan argumentasi bahwa teguran bisa memicu kebencian antardua sahabat.

Pada bab kedua, misalnya, ats-Tsa'alabi membahas bagaimana menghadapai pembantu, budak, dan pelayan yang sehari-hari mengabdi di rumah. Di bab yang lain, figur yang dikenal piawai di berbagai bidang keilmuan itu membahas fenomena rasa rindu yang hinggap pada diri seseorang. Dan, di bab terakhir, ia menukil argumentasi tentang urgensi bersikap adil.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA