Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Nasib Pencari Suaka dan Rasulullah yang Mengungsi

Kamis 11 Jul 2019 06:10 WIB

Rep: Rahma Sulistya, Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Karta Raharja Ucu

Perwakilan UNHCR temui pendemo imigran yang mencari tempat tinggal atau suaka di depan gedung Menara Ravindo, Kebon Sirih, Kamis (4/7).

Perwakilan UNHCR temui pendemo imigran yang mencari tempat tinggal atau suaka di depan gedung Menara Ravindo, Kebon Sirih, Kamis (4/7).

Foto: Republika/Nugroho Habibi
Para pengungsi perlu dibantu karena Rasulullah dahulu adalah pengungsi di Madinah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ratusan pencari suaka yang mengungsi Jalan Kebon Sirih disebut perlu mendapatkan bantuan. Manager Advokasi Refugees Dompet Dhuafa, Haryo Mojopahit menekankan, para pengungsi perlu dibantu karena Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam dahulu sendirinya adalah pengungsi.

Lembaga amal Dompet Dhuafa akan bekerja sama dengan Dewan Tinggi Pengungsi PBB (UNHCR) membantu para pencari suaka yang terjebak di Indonesia. Haryo menjelaskan, alasan Dompet Dhuafa menaruh kepedulian terhadap para pencari suaka tak lepas dari sejarah umat Islam.

Baca Juga

Ia mengingatkan, pada awal-awal menyebarkan ajarannya, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah juga seorang pengungsi yang mencari perlindungan ke kota lain. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pergi dari Makkah yang kian tak kondusif menuju Yathrib kemudian mendapatkan perlindungan serta memimpin komunitas di kota itu.

“Dan setelah pindah, kota yang disinggahi itu diubah nama menjadi Madinah. Setelah itu, peradaban kan dibangun oleh pengungsi ini. Dan banyak kisah peradaban Islam yang dibangun oleh pengungsi,” kata dia saat dihubungi Republika, Selasa (9/7) malam. Salah satu bentuk bantuan yang akan dilakukan Dompet Dhuafa adalah pelatihan kewirausahaan bagi para pencari suaka yang berada di Indonesia.

Haryo mengatakan, perlunya pelatihan ini agar mereka tidak terabaikan saat berada di Indonesia yang merupakan negara persinggahan. “Jadi teman-teman yang ada di Indonesia atau negara lain (Thailand dan lainnya), mereka menunggu penempatan tanpa ada batas kejelasan,” kata dia.

photo

Para pencari suaka beraktivitas di trotoar depan Menara Ravindo, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Dalam program Dompet Dhuafa, mereka akan mempersaudarakan pengungsi dengan masyarakat lokal Indonesia dengan memberikan modal usaha. “Jadi kita mendidik dua nih, ada masyarakat Indonesia dan ada refugees. Yang punya bisnis ini ya masyarakat Indonesia, dan refugees ini bisa diajak memberikan ide atau konsep begitu,” ujar Haryo.

Pengungsi atau pencari suaka yang ada di Indonesia ini, menurut dia, merupakan orang-orang yang menghindari konflik di negerinya. Sedianya mereka menuju negara lain, tapi akhirnya dihalau dan masuk ke Indonesia.

Kemudian para pengungsi ini didata oleh UNHCR, diverifikasi identitasnya untuk kemudian mendapat status sebagai pengungsi dan ditempatkan kembali di negara tujuan. “(Namun), sentimen terhadap pengungsi ini akhirnya meningkat dan ada beberapa negara besar telah mengurangi jumlah penerimaan pengungsi,” kata Haryo.

Dalam rentang waktu lama menunggu kepastian itu, UNHCR dan Dompet Dhuafa mencari cara agar mereka bisa berkarya dan bertahan hidup. Tujuannya, ketika mereka ditempatkan di negara yang telah ditentukan, mereka sudah punya kemampuan.

Selain pelatihan kewirausahaan, Dompet Dhuafa juga memberikan bantuan di bidang pendidikan berupa school for refugees, dan layanan kesehatan yang masih akan dibicarakan dengan Organisasi Migran Internasional (IOM). “Sekarang sedang menjajakan dengan IOM untuk berikan layanan kesehatan,” kata Haryo.

photo

Para pencari suaka beraktivitas di trotoar depan Menara Ravindo, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Sementara itu, Kementerian Sosial (Kemensos) menyatakan siap menampung sementara para pengungsi yang mendirikan tenda di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, di Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Bambu Apus Jakarta. "Sebenarnya kami tidak punya kewenangan menangani pengungsi, tetapi pada akhirnya Kemensos yang menangani mereka karena alasan kemanusiaan," kata Kepala Biro Perencanaan Kemensos, Adhy Karyono di Jakarta, Selasa (9/7) malam.

Ia menambahkan, bantuan kemanusiaan tersebut diberikan kepada mereka karena mereka menjadi korban konflik sosial. Karena itu, ia menyebut Kemensos sudah bertemu dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Dinas Sosial DKI Jakarta.

Pertemuan tersebut memutuskan para pengungsi yang berada di jalan tidak punya tempat dan terlunta-lunta bisa mendapatkan tempat tinggal sementara dan makanan di PSBR Bambu Apus Jakarta. Ia menjelaskan, Kemensos memiliki anggaran dana hibah untuk menangani para pengungsi tersebut.

"Para pengungsi ini bisa mendapatkan makanan dan tempat tinggal sementara di Bambu Apus hingga tanpa batas waktu. Ini sama seperti pengungsi Rohingya di Aceh beberapa waktu lalu yang masih kami tangani hingga saat ini," ujarnya.

Ia memperkirakan, para pengungsi Kebon Sirih bisa cukup lama berada di Indonesia hingga dua tahun mendatang karena biasanya mereka baru mendapatkan kejelasan mendapatkan suaka atau dideportasi. Meski belum ada pengungsi yang masuk ke PSBR Bambu Apus, dia menyebut Kemensos siap menampung selama belum ditangani UNHCR.

"Kadang-kadang UNHCR belum punya tempat juga bisa dititipkan ke Kemensos, tetapi biaya permakanan ditanggung UNHCR," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA