Kamis, 21 Zulhijjah 1440 / 22 Agustus 2019

Kamis, 21 Zulhijjah 1440 / 22 Agustus 2019

Bupati Purbalingga Minta Dinpertan Antisipasi Kekeringan

Kamis 11 Jul 2019 19:49 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ilustrasi kekeringan.

Ilustrasi kekeringan.

Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Bupati Purbalingga mencemaskan dampak kemarau mengganggu produksi pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi meminta Dinas Pertanian untuk meminimalisir dampak kekeringan. Dia berharap, dampak kemarau tidak mengganggu produksi pertanian.

"Saya minta Dinas Pertanian mengantisipasi dampak kekeringan di Purbalingga. Jangan samai produksi hasil-hasil pertanian kita menurun tajam," katanya, Kamis (11/7).

Dia mengakui, dampak kemarau saat ini memang membuatnya agak khawatir. Terutama setelah mendapat informasi mengenai cukup banyaknya lahan-lahan yang saat ini mengalami kekurangan air.

''Saya minta Dinas Pertanian benar-benar memperhatikan hal ini, dan sebisa mungkin membantu petani agar tanamannya bisa diselamatkan hingga panen,'' katanya.

Dia menyebutkan, Pemkab Purbalingga melalui Dinpertan telah memprogramkan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) bagi para petani. Tujuannya, untuk membantu petani agar biaya operasional penggunaan mesin sedot air bisa ditekan. "Ini sedang kita pikirkan bagaimana mekanismenya," katanya.

Saat ini, dampak kemarau memang mulai dirasakan petani di Purbalingga. Untuk menyelamatkan tanamannya hingga panen. petani harus merogoh kocek lebih dalam karena secara periodik harus mengeluarkan uang membeli BBM untuk menyedot air.

Supardi, seorang petani di Desa Mewek, Kecamatan Kalimanah, mengatakan saat ini tanaman padinya sudah berusia dua bulan. Masih membutuhkan waktu sekitar sebulan lagi, hingga memasuki musim panen. Yang menjadi masalah, air pada saluran irigasi yang melintasi sawahnya sudah mengering.

Agar tetap bisa memanen padinya, Supardi mengaku harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk menyedot air dari sungai yang dialirkan ke sawahnya. ''Sudah sejak sebulan lalu kami menyedot air sungai untuk mengairi sawah. Kondisi ini sangat memberatkan, karena sekali sedot harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu. Padahal, paling tidak 10 hari sekali harus menyedot air,'' katanya.

Plt Kepala Dinas Pertanian Purbalingga, Endro Irianto, mengaku dalam kondisi musim kering seperti sekarang, biaya yang harus dikeluarkan petani untuk menjaga tanamannya tetap tumbuh memang menjadi lebih besar.

Untuk itu dia menyatakan, jika kekeringan masih berlangsung panjang dan petani masih membutuhkan air, pihaknya  akan mencoba memfasilitasi para petani untuk memberikan subsidi pembelian bahan bakar solar. ''Rapat beberapa waktu lalu, kami memang ada rencana untuk membantu bahan bakar solarnya. Tapi mekanismenya masih belum bisa dipastikan,'' katanya. n eko widiyatno

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA