Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

JK: Kepala Daerah tak Perlu Sering Studi Banding ke Luar

Jumat 12 Jul 2019 13:15 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Teguh Firmansyah

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meresmikan pembukaan Rating Kota Cerdas Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (12/7).

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meresmikan pembukaan Rating Kota Cerdas Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (12/7).

Foto: Dok Setwapres
Studi banding penerapan kota cerdas dapat dilakukan di sejumlah kota di Tanah Air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kepala daerah tidak perlu sering studi banding ke luar negeri dalam rangka pembangunan menuju 'kota cerdas' atau smart city.  Menurut JK, sudah ada kota di Indonesia yang berhasil menerapkan pembangunan kota cerdas. Karena itu studi banding dapat dilakukan ke kota-kota yang ada di Tanah Air.

"Jadi studi banding ke kota-kota lain, Surabaya bersih, atau Tangerang baik, ya studi banding ke situ. Nggak usah pergi ke Singapura terlalu jauh, dan lebih murah kalau studi banding yang ke situ," ujar JK saat membuka peresmian pembukaan Rating Kota Cerdas Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (12/7).

Dalam kesempatan itu, JK juga menyinggung para kepala daerah yang sibuk studi banding ke luar negeri, namun tidak menerapkan hasilnya di dalam pembangunan kotanya. JK berujar, daripada sibuk studi banding, lebih baik untuk segera melaksanakan pembangunan kota cerdas tersebut."Jangan hanya kita studi banding ke Singapura, ke Tokyo atau kemana saja. Tapi melaksanakannya dengan baik," kata JK.

JK juga menyarankan kepala daerah saling belajar satu sama lain dalam membangun daerahnya. Sebab menurut JK, untuk membangun kota cerdas tidak hanya soal kercerdasan tetapi juga kemauan dari kepala daerah. Menurutnya, masing-masing kota memiliki kelebihan yang berbeda-beda sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain.

"Maka dalam kesempatan ini, kenapa perlu wali kota dan bupati bersama berkumpul supaya saling belajar dan saling melihat. Tidak perlu cerdas sekali untuk pintar," kata JK.

Sebelumnya, Wapres JK mengatakan 'kota cerdas' didapat jika kepala daerah yang memimpinnya dapat menggunakan teknologi sesuai kebutuhan daerah. JK pun mendorong kepala daerah memanfaatkan teknologi dalam membangun daerahnya.

"Yang kita sebut nanti kota cerdas. Sebenarnya bukan kota cerdas, yang penting wali kota cerdas atau bupati cerdas, karena peralatan teknologi bisa dibeli tapi tidak semua bisa pakai. Maka wali kota cerdas atau bupati yang cerdas yang bisa menggunakan itu dengan kemauannya," ujar JK.




Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA