Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Ini Tantangan Jika Garbi Mau Jadi Parpol Menurut Pengamat

Jumat 12 Jul 2019 14:09 WIB

Rep: Riza Wahyu Pratama/ Red: Teguh Firmansyah

Wakil ketua DPR, Fahri Hamzah memberikan sambutan pada kegiatan Orasi dan Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) di Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (11/02/2019) malam.

Wakil ketua DPR, Fahri Hamzah memberikan sambutan pada kegiatan Orasi dan Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) di Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (11/02/2019) malam.

Foto: Antara/Akbar Tado
Ambang batas parlemen akan menyulitkan pembentukan partai-partai baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anis Matta dan Fahri Hamzah telah mendirikan dan membangun organisasi masyarakat, Garbi (Gerakan arah baru Indonesia) selama setahun terakhir.  Fahri tak menampik Garbi akan berubah menjadi partai politik ke depan.

Baca Juga

Menurut Pengamat politik dan juga Pendiri lembaga KedaiKOPI, Hendri Satrio, munculnya partai politik baru akan memperkuat dinamika demokrasi, Jumat (12/7). Semakin banyak partai yang mampu mengajukan calon pemimpin, maka kontestasi akan semakin baik.

Akan tetapi, ia menjelaskan, jika Garbi benar-benar akan menjadi partai politik. Maka ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah citra Garbi sebagai "sempalan" Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Apakah mereka akan diterima oleh anggota atau simpatisan PKS? Belum tentu. Maka Garbi mau tidak mau harus mencari grassroot baru agar diterima masyarakat," kata Hendri kepada Republika.co.id melalui pesan suara.

Kemudian, tantangan selanjutnya bagi Garbi adalah ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold). Pria yang akrab disapa Hensat itu menuturkan, meskipun Fahri Hamzah dan Anis Matta memiliki loyalis, namun, hal itu tidak menjamin mereka mampu melampaui ambang batas parlemen empat persen.

"Saya yakin kedepannya, pasti partai-partai yang lolos ke senayan ini akan menaikan lagi parliamentary threshold, jadi 6 persen atau 7 persen," ujar pria yang juga merupakan dosen di Universitas Paramadina.

Hensat berkesimpulan, ambang batas parlemen akan menyulitkan munculnya partai-partai baru. Akan tetapi, ia menyarankan, jika Garbi ingin bertahan, maka mereka harus berlaga di tingkat daerah (DPRD).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA