Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Menanti Wajah Baru The Blues

Sabtu 13 Jul 2019 13:13 WIB

Red: Didi Purwadi

Frank Lampard

Frank Lampard

Foto: EPA-EFE/Neil Hall
Frank Lampard ditujuk sebagai pelatih Chelsea menggantikan Maurizio Sarri.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Reja Irfa Widodo

DUBLIN -- Gol Michy Batshuayi pada menit kedelapan di Stadion Dalymount Park, Kamis (11/7) dini hari WIB, membuka keunggulan Chelsea atas tuan rumah Bohemian FC. Ini menjadi gol pertama Chelsea sejak resmi dibesut Frank Lampard. Laga persahabatan kontra tim asal Irlandia itu memang menjadi laga debut Lampard sebagai pelatih The Blues usai ditunjuk menggantikan Maurizio Sarri pada awal bulan ini.

Namun, kemenangan di depan mata itu akhirnya pupus saat pemain yang tengah melakoni uji coba dengan Bohemian FC, Eric Molloy, mencetak gol pada menit ke-89. Lampard pun mengawali kiprahnya sebagai pelatih The Blues dengan catatan kurang memuaskan, yaitu ditahan imbang salah satu kontestan Liga Irlandia.

Padahal, saat ditunjuk sebagai pelatih The Blues, ada optimisme dan ekpektasi tinggi yang dibebankan kepada pelatih berusia 41 tahun itu saat dipercaya menukangi The Blues. Terlebih, dengan status Lampard sebagai salah satu legenda klub. Membela The Blues selama 13 musim, Lampard tercatat sebagai pencetak gol terbanyak Chelsea, dengan torehan 211 gol dari 648 penampilan.

Kiprah Lampard sebagai penggawa The Blues dilengkapi dengan raihan 11 trofi, termasuk satu titel Liga Champions, satu trofi Liga Europa, dan tiga trofi Liga Primer Inggris, serta empat gelar Piala FA. Semua catatan ini sudah cukup buat Lampard untuk meninggalkan warisan nama besar di Stamford Bridge. Hingga kini, Lampard pun masih menjadi sosok pujaan bagi fan setia The Blues dan dianggap simbol klub asal London Barat tersebut.

Namun, sebagai pelatih, Lampard dinilai belum bisa memberikan performa meyakinkan. Hasil di laga kontra Bohemian menjadi bukti sahih anggapan tersebut. Di laga kontra Bohemian tersebut, eks pelatih Derby County ini terlihat masih berekperimen terkait komposisi terbaik skuat The Blues. Total 22 pemain diturunkan Lampard di partai perdana Chelsea dalam rangkaian tur pra musim 2019/2020 tersebut.

Di sepanjang laga, Lampard menerapkan formasi permainan 4-2-3-1. Kondisi ini jauh berbeda dengan yang biasa dia terapkan kala masih membesut Dery County, yaitu 4-3-3 ataupun 4-4-2 (diamond).

Pada babak pertama, Lampard menurunkan lima pemain muda sebagai starter, seperti Marc Guehi, Dujon Sterling, dan Conor Gallagher. Kehadiran pemain muda ini dipadukan sejumlah pemain senior, seperti Cesar Azpilicueta, Pedro, dan Danny Drinkwater.

Memasuki babak kedua, Lampard mengganti seluruh pemain The Blues, dan lebih banyak memasukan pemain yang baru kembali dari masa peminjaman pada musim lalu, seperti Kurt Zouma dan Tiemoue Bakayoko. Hasilnya The Blues justru kebobolan saat laga tinggal tersisa satu menit.

Apabila dibandingkan dengan pendahulunya, Maurizio Sarri, catatan ini cukup mengecewakan. Pasalnya, di laga perdana sebagai pelatih Chelsea, Sarri mampu memetik kemenangan kala mengalahkan Perth Glory 1-0 di laga pra-musim 2018/2019.

Kritik pedas dilontarkan mantan penyerang Chelsea, Jimmy Floyd Hasselbaink, terkait permainan yang ditampilkan Chelsea di laga tersebut. Menurut penyerang Chelsea pada kurun waktu 2000 hingga 2004 tersebut, permainan The Blues berjalan sangat lambat lantaran seorang pemain bisa menyentuh bola lebih dari dua kali.

''Mengalirkan bola dengan cepat dari belakang ke depan adalah ide besar Frank (Lampard), tapi ide itu tidak terlihat di laga tersebut. Selain itu, rata-rata tim besar mampu mengalirkan bola dengan cepat. Inilah yang harus segera diperbaiki Frank. Meski ini baru laga pramusim, tapi pertandingan ini cukup penting buat Frank untuk memilih pemain yang tepat pada musim depan,'' ujar Hasselbaink, seperti dikutip Metro, tengah pekan ini.

Selepas laga, Lampard mengakui, kondisi kebugaran anak-anak asuhnya masih jauh berada di bawah standar. Terlebih, Chelsea menghadapi tim yang telah melakoni musim kompetisi. Kendati begitu, dari segi teknik ataupun kemampuan untuk tampil solid, performa para penggawa The Blues sudah cukup memuaskan buat pelatih yang dikontrak selama tiga tahun oleh manajemen.

Lampard pun menyoroti kemampuan para pemain muda The Blues. ''Tentu saja, kami ingin bisa menang, tapi poin utamanya bukanlah hal itu. Saat ini, yang terpenting adalah meningkatkan kebugaran. Kebugaran dan langsung meningkatkan intensitas permainan menjadi isu yang mesti segera diselesaikan. Namun, secara keseluruhan, saya cukup puas dengan penampilan para pemain, terutama pada pemain muda,'' kata Lampard di laman resmi klub.

Tantangan Terbesar Lampard
Semua evaluasi di laga kontra Bohemian ini akan dibawa Lampard saat The Blues berhadapan dengan Saint Patrick's Athletic di Stadion Richmond Park, Sabtu (13/7) waktu setempat. Ini akan menjadi laga kedua Chelsea dalam rangkaian tur di Republik Irlandia.

Setelah menjalani pemusatan latihan dan dua laga uji coba di Irlandia, Chelsea bakal bertolak ke Jepang untuk menjalani serangkian laga uji coba. Chelsea akhirnya mengakhiri tur pramusim dengan menghadapi Borussia Monchengladbach di Borussia Park, Jerman, awal Agustus silam.

Meski menelan hasil imbang di laga debutnya, Lampard cukup optimistis bisa segera meraih kemenangan perdananya sebagai pelatih The Blues, terutama di laga kontra Saint Patrick's Athletic. Pasalnya, di laga ini, The Blues sudah mulai diperkuat oleh sejumlah penggawa inti pada musim lalu, seperti David Luiz, Olivier Giroud, Kepa Arrizabalaga, Jorginho, dan Mateo Kovacic.

Selain itu, ada pula rekrutan The Blues pada bursa transfer musim dingin Januari silam, Christian Pulisic, yang baru bergabung setelah memperkuat Amerika Serikat di ajang Piala Emas 2019.

''Anda akan melihat sebagian besar dari mereka pada akhir pekan ini,'' kata Lampard. ''Kami baru benar-benar memulai usaha untuk bisa membangun tim yang solid.''

Kendati begitu, mencari komposisi terbaik tim The Blues bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dijawab Lampard pada musim debutnya sebagai pelatih Chelsea. The Blues dibayangi-bayangi sanksi dari UEFA untuk tidak boleh terlibat dalam dua kali bursa transfer. Alhasil, selain mempermanenkan Mateo Kovavic dari Real Madrid dan menerima kedatangan Christian Pulisic, tidak ada aktivitas berarti dari Chelsea dalam mendatangkan pemain di bursa transfer musim panas kali ini.

Tidak berhenti sampai di situ, kepergian Eden Hazard ke Real Madrid membuat kondisinya semakin berat buat Lampard. Selama ini, gelandang serang asal Belgia itu memang menjadi tulang punggung dan pemain andalan The Blues untuk bisa meraih kemenangan. Berbagai keterbatasan ini coba dijawab Lampard dengan memaksimalkan barisan pemain yang ada, sembari terus mencari pemain dari Akademi Sepak Bola Chelsea yang layak dipromosikan ke tim senior.

''Faktanya, kami harus bisa tampil kompetitif pada musim depan. Akhirnya sudah menjadi tugas saya untuk bisa menemukan keseimbangan dalam tubuh tim. Saya menginginkan pemain, baik itu yang baru berusia 18 tahun ataupun 32 tahun, yang bisa membuktikan kualitasnya untuk bisa membela Chelsea,'' tutur Lampard seperti dikutip The Independent.

Selain itu, Lampard juga diharapkan bisa segera menjawab kritik utama yang kerap dialamatkan kepada dirinya terkait pengalamannya melatih sebuah tim besar. Sebagai pelatih, Lampard memang terbilang masih minim pengalaman. Derby County menjadi tim pertama yang dilatih Lampard di sepanjang kariernya, itu pun hanya berlangsung selama satu musim.

Keberhasilan membawa The Rams finish di peringkat keempat pada Divisi Championship dan melaju ke babak play off promosi ke Liga Primer Inggris pada musim lalu menjadi capaian terbaik Lampard. Sayangnya, Lampard gagal membawa Derby County promosi ke Liga Primer Inggris musim depan usai The Rams menyerah 1-2 dari Aston Villa di babak play off.

Bahkan, dibanding pelatih-pelatih di anggota ''The Big Six'', Lampard mengantongi rasio kemenangan terendah kedua saat pertama kali ditunjuk sebagai pelatih. Di urutan teratas ada Pep Guardiola, yang mengantongi rasio kemenangan mencapai 74 persen dari 408 laga saat pertama kali dipercaya menukangi Manchester City. Sedangkan Lampard hanya mengantongi rasio kemenangan 42 persen dari 57 laga kompetitif kala didapuk menjadi pelatih The Blues.

Kendati begitu, Lampard tidak mau terpaku dengan catatan tersebut. Menurutnya, pengalaman bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam perjalanan seorang pelatih. Buat Lampard, yang terpenting dari seorang pelatih adalah kemampuannya untuk bisa mengimplementasikan gaya permainan yang efektif ke dalam sebuah tim.

''Sepak bola dipenuhi cerita soal pelatih kurang berpengalaman yang gagal memenuhi ekpektasi, tapi ada pula cerita tentang pelatih berpengalaman yang tidak bisa mencapai target. Saya belajar banyak dari semua pelatih yang pernah bekerjasama dengan saya. Saya mengetahui seluk beluk klub ini, tapi saya harus membuktikannya. Saya siap dengan tantangan itu, meski dengan pengalaman hanya melatih satu tahun atau 10 tahun sekalipun,'' tutur Lampard.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA