Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Makna di Balik Pertemuan Prabowo-Jokowi di MRT

Ahad 14 Jul 2019 09:11 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Karta Raharja Ucu

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjabat tangan saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7).

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjabat tangan saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7).

Foto: Republika/Prayogi
Meski terlihat nonformal, pertemuan tetap memiliki makna yang mendalam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Joko Widodo dan Prabowo Subianto akhirnya bertemu. Pertemuan perdana keduanya setelah kontestasi politik yang cukup panas berlangsung di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7) pagi. Pertemuan itu sekaligus menjawab desakan dari kelompok masyarakat agar ada rekonsiliasi antara kedua pihak yang sempat berseteru dalam panggung pilpres lalu.

Prabowo Subianto tiba lebih dulu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, pada pukul 09.51 WIB, Sabtu pagi. Jokowi tiba pada pukul 10.00 WIB. Keduanya bersalaman sejenak sebelum kemudian naik kereta Ratangga bersama menuju Senayan. Sesampainya di Stasiun Senayan, Jokowi dan Prabowo menyampaikan pidato.

"Pertemuan saya dengan Bapak Prabowo Subianto pada pagi hari ini adalah pertemuan seorang sahabat, pertemuan seorang kawan, pertemuan seorang saudara," kata Jokowi dalam pidatonya.

photo
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto melambaikan tangannya saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7).

Presiden terpilih 2019-2024 itu menyampaikan pertemuannya dan Prabowo sudah dirancang sejak lama, tetapi kerap batal karena keduanya sama-sama sibuk. Jokowi pun berharap momentun pertemuannya dengan Prabowo bisa ikut merajut kembali persatuan bangsa Indonesia.

"Saya kira kalau sudah melihat para pemimpinnya sudah bergandengan, mestinya pendukung sudah selesai dan bergandengan semuanya. Tidak ada lagi yang namanya cebong-kampret. Yang ada adalah garuda. Garuda Pancasila," kata Jokowi.

Jokowi pun mengajak masyarakat kembali bergandeng tangan untuk membangun bangsa. Dia mengingatkan, kompetisi global yang kini diwarnai perlambatan ekonomi dunia butuh persatuan masyarakat untuk sama-sama membangun negara.

Pidato Jokowi pun ditanggapi positif oleh Prabowo Subianto. Prabowo menilai, meski terlihat nonformal, pertemuan ini tetap memiliki makna yang mendalam. Ia pun memanfaatkan momentum pertemuannya dengan Jokowi untuk menyampaikan ucapan selamat atas hasil pilpres yang sah.

"Banyak yang tanya, mengapa Pak Prabowo belum ucapkan selamat atas ditetapkannya Pak Jokowi sebagai presiden. Saya katakan, saya ini bagaimanapun ada ewuh pekewuh, ada tata krama. Jadi, kalau ucapan selamat maunya langsung tatap muka," katanya.

photo
Jokowi dan Prabowo naik MRT bersama-sama dari Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7)

Prabowo menegaskan, persaingan yang terjadi dalam pilpres lalu adalah tuntutan politik. Namun, terlepas dari saling kritik, keduanya tetap berada dalam tujuan yang sama untuk membangun bangsa.

"Saya mengerti, banyak yang mungkin masih emosional. Kita mengerti, banyak hal yang kita harus perbaiki. Intinya, saya berpendapat bahwa antara pemimpin kalau hubungannya baik, kita bisa saling ingatkan," kata Prabowo.

Prabowo menutup pidatonya dengan mengingatkan Jokowi bahwa menjadi presiden merupakan amanah yang besar. Ia pun menyatakan siap membantu pemerintah bila memang diperlukan. Mohon maaf kalau kira-kira mengkritisi Bapak sekali-sekali, katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA