Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Soal Jokowi-Prabowo, Tokoh NU: Di Kampung Sudah Cair Dulu

Ahad 14 Jul 2019 16:56 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Teguh Firmansyah

Prabowo Subianto (Kiri) dan Presiden RI, Joko Widodo (Kanan)

Prabowo Subianto (Kiri) dan Presiden RI, Joko Widodo (Kanan)

Foto: Republika TV/Sapto Andika Candra
Marsudi Syuhud mengapresiasi pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud menanggapi pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada Sabtu (13/7) kemarin. Menurut dia, masyarakat di tingkat akar rumput sudah lebih dulu rukun ketimbang para elite politik setelah pengumuman KPU soal kemenangan Jokowi.

"Masyarakat sesungguhnya kalau di kampung-kampung itu sudah lebih dulu 'cair' daripada elite. Kenapa? Karena sebagian masyarakat itu mempunyai software sosial yang sangat tinggi yang mempertemuakan satu sama lain di antara mereka. Yaitu software kumpal-kumpul walaupun mereka beda-beda pilihannya," kata dia kepada Republika.co.id, Ahad (14/7).

Marsudi memaparkan, dalam bertetangga ada kultur berkumpul di kalangan masyarakat perkampungan. Misalnya ada zikiran, ada yasinan, tahlilan, mantenan atau berkumpul bersama. Jadi, kata Marsudi, mereka sesungguhnya berbeda dalam pilihan, tapi cair bercerita.

"Wah sampean menang, saya kalah, tapi saya menang dalam hal jago presiden saya, tapi saya kalah jagoan saya di legislatif. Itu cair cerita kayak gitu. Maka masyarakat cair, di atas pun cair, insya Allah itu bisa berjalan dengan baik," katanya.

Meski begitu, Marsudi Syuhud mengapresiasi pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Menurut dia, Prabowo menunjukkan komitmennya bahwa kepentingan bangsa berada di atas segalanya.

"Itu sangat baik karena saya mengapresiasi Pak Prabowo yang benar-benar mempunyai (sikap kebangsaan), guru bangsa-lah menurut saya. (Sikap) kebangsaannya sangat tinggi," kata dia.

Marsudi menjelaskan, segala sesuatu itu ada ukurannya, termasuk soal pemilihan presiden. Karena itu, ia mengatakan, ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan memenangkan salah satu capres, yakni Jokowi sebagai capres pejawat, maka sudah semestinya semua pihak menerima.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA