Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Kabut Asap Mulai Mengepung Sejumlah Daerah

Senin 15 Jul 2019 07:57 WIB

Red: Budi Raharjo

Sejumlah personel pemadam kebakaran melakukan proses pemadaman kebakaran hutan. (ilustrasi)

Sejumlah personel pemadam kebakaran melakukan proses pemadaman kebakaran hutan. (ilustrasi)

Foto: Antara/FB Anggoro
Bau menyengat dari lahan gambut yang terbakar tercium di beberapa area pinggiran kota

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warga di sejumlah daerah mulai dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Beberapa daerah yang telah dikepung kabut asap tipis yaitu Provinsi Riau, Kalimantan Tengah, dan Aceh.

Di Provinsi Riau, kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru dan Kota Dumai sejak Ahad (14/7). Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Meteorologi Pekanbaru, jarak pandang pada kemarin pagi di kedua kota tersebut memendek menjadi 5 kilometer.

"Berdasarkan data pengamatan sinoptik pukul 07.00 WIB di Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Syarif Kasim II, terdeteksi adanya kekaburan udara akibat kabut asap," kata analis BMKG Sanya Gautami, kemarin.

Bau menyengat dari lahan gambut yang terbakar tercium di beberapa area pinggiran kota, seperti wilayah Panam, Pekanbaru. Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mendeteksi 38 titik panas yang mengindikasikan terjadinya karhutla di Riau. Jumlah titik panas itu meningkat dibandingkan dengan Sabtu (13/7) yang terdapat sebanyak 35 titik panas.

BMKG menyatakan, citra satelit menunjukkan, pada pukul 06.00 WIB, sebanyak 38 titik panas tersebar di 11 kabupaten/kota di Provinsi Riau.Titik panas terbanyak terpantau menyebar di Kabupaten Siak dengan sembilan titik panas, Pelalawan tujuh titik, serta Bengkalis, Rokan Hilir, masing-masing enam titik panas.

Selain itu, ada tiga titik panas di Kampar, dua di Rokan Hulu, serta masing-masing satu di Kabupaten Kepulauan Meranti, Kuantan Singingi, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan Kota Pekanbaru. Menurut data BMKG, 20 dari 38 titik panas di Riau merupakan titik api.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, sebanyak 1.500 personel gabungan TNI, Polri, Manggala Agni, hingga tokoh agama dan masyarakat yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla telah dikerahkan ke desa-desa rawan kebakaran hutan dan lahan di Riau.

"Tahun ini, satgas tidur di rumah penduduk. Berada di tengah masyarakat, termasuk bagaimana mereka melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan. Semua bersatu dan bergabung selesaikan masalah,\" kata Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo.

Hingga awal Juli 2019, sudah lebih dari 3.300 hektare lahan di Riau yang hangus terbakar. Kebakaran lahan paling banyak terjadi di Kabupaten Bengkalis dengan luas area lahan dan hutan terbakar mencapai 1.435 hektare. Pemerintah Provinsi Riau mengaktifkan Satgas Karhutla setelah menetapkan status siaga darurat mulai 19 Februari hingga 31 Oktober 2019.

Di Provinsi Kalimantan Tengah, warga Kota Palangkaraya mulai mencium aroma asap karhutla. "Beberapa hari ini bau asap karhutla tercium setiap sekitar pukul 04.30 WIB. Namun, keadaan ini belum sampai mengganggu aktivitas," kata Yunita, warga di Kelurahan Panarung, Kota Palangkaraya, Ahad.

Wanita yang bekerja sebagai wiraswasta ini menambahkan, aroma asap kebakaran lahan juga samar-samar tercium saat malam hari. Dia mengaku waswas jika kejadian tersebut terus berlangsung hingga terjadi kabut asap yang parah, yang akan berdampak pada kesehatan anaknya yang masih berusia dua tahun lebih.

"Anak-anak ini rentan sakit jika cuaca panas, belum lagi saat ini sudah tercium bau asap. Repotnya, mereka belum bisa memakai masker, ditambah daya tahan tubuh yang berbeda dengan orang dewasa," katanya.

Sudirman, warga lain yang tinggal di Kelurahan Menteng, juga mengaku telah mencium aroma asap, terutama pada malam dan pagi hari.Namun, bau kabut asap hilang pada pagi hingga sore. Dia berharap pemerintah dapat segera menanggulangi karhutla agar bencana kabut asap yang pernah melanda Palangkaraya tidak terulang kembali.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala BPBD Kota Palangkaraya Supriyanto mengatakan, khusus di wilayah Kecamatan Jekan Raya, setidaknya ada 35 hektare lahan telah terbakar hingga mendekati periode pertengahan Juli. Luas lahan terbakar itu belum termasuk lahan yang terbakar di empat kecamatan lain. "Untuk itu, saat ini kami bersama tim Satgas Karhutla terus melakukan pemantauan, pengawasan, dan upaya pemadaman kebakaran lahan," kata Supriyanto.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat turut aktif melakukan pencegahan Karhutla agar upaya yang dilakukan pemerintah semakin efektif dan efisien. Apalagi, ungkap dia, sebagian besar kebakaran lahan di Palangkaraya diduga kuat karena adanya unsur kesengajaan pemilik yang membersihkan lahannya.

Warga di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, sangat mengkhawatirkan kabut asap yang melanda dalam beberapa hari terakhir akibat karhutla di empat kecamatan. Empat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Arongan Lambalek, Samatiga, Woyla Barat, serta Johan Pahlawan.

photo

PR Karhutla

Pemantauan Antara di kawasan Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, ketebalan kabut asap yang melanda kawasan ini pada pagi hari telah mengganggu jarak pandang. Jarak pandang hanya mencapai 50 meter-100 meter. "Kabut asapnya sangat mengganggu pandangan dan penglihatan. Kondisi ini terjadi pada pagi dan malam hari," kata Yuli, warga Desa Alue Raya, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Sabtu.

Kabut asap yang diduga akibat kebakaran lahan tersebut juga menyebabkan warga sulit bernapas pada malam hari. Warga harus menutup rapat-rapat pintu rumah dan jendela agar sebaran kabut asap tidak leluasa masuk ke dalam rumah.

Warga berharap sebaran kabut asap dapat segera berakhir dan upaya pemadaman kebakaran lahan yang dilakukan petugas dapat segera mengatasinya. Koordinator Pusdalops BPBD Aceh Barat, Mashuri, mengatakan, upaya pemadaman api masih terus dilakukan petugas. Titik api terus bermunculan di beberapa titik tertentu di kabupaten setempat akibat musim kemarau.

Kendala yang dihadapi petugas saat berusaha memadamkan api, kata Mashuri, yakni sulitnya mendapatkan sumber air di sekitar lokasi kebakaran karena beberapa desa di daerah ini turut mengalami kekeringan. Untuk mendapatkan sumber air terdekat dari lokasi kebakaran, petugas BPBD bersama TNI, Polri, dan masyarakat terpaksa mencari sumber air di kawasan yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi pemadaman.

Mashuri mengungkapkan, meski kebakaran lahan di beberapa lokasi telah berhasil dipadamkan, teriknya matahari menimbulkan titik api di lokasi baru. n antara ed: satria kartika

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA