Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Janji Dinikahi oleh Warga Cina Tenyata Cuma Jadi Buruh

Rabu 17 Jul 2019 00:06 WIB

Rep: Riza Wahyu Pratama/ Red: Teguh Firmansyah

Perdagangan manusia/ilustrasi

Perdagangan manusia/ilustrasi

Foto: UsAFE
IP diperkenalkan ke mak comblang dan diming-imingi nikah dengan warga Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perempuan asal Mempawah, Kalimantan Barat, IP (14 tahun) dan YM (28 tahun) menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Awalnya, kedua perempuan tersebut ditawari untuk menikah dengan iming-iming uang Rp15-20 juta. Namun, kenyataannya mereka tidak pernah dinikahkan secara resmi dan malah jadi buruh.

IP bercerita, awalnya ia ditawari temannya. Dari temannya itulah ia diperkenalkan dengan "makcomblang". "Saya ditawari, mau nggak nikah sama orang Cina. Saya kaget kenapa jauh-jauh cari di sini. Emangnya di Cina nggak ada," kata IP kepada awak media.

Pernyataan tersebut disampaikan di kantor Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jalan Pengadegan Utara I, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (16/7).

Setelah keduanya menyanggupi. IP dan YM dibawa ke Jakarta. Mereka dipertemukan dengan pria asal Cina sembari dibuatkan surat-surat. "Izinnya kunjungan," ucapnya.

Menurut pengakuan kedua perempuan tersebut, saat berada di Cina, keduanya dipekerjakan tanpa upah. Selain itu, mereka juga mengalami kekerasan fisik, mulai dari dipukul, hingga pernah akan disiram air panas.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hariyanto mengatakan, pihaknya berhasil memulangkan 12 wanita yang dijadikan pengantin pesanan. Dua di antaranya digagalkan saat akan diberangkatkan ke China.

"14 Masih ada yang di perwakilan kita di sana (KBRI Cina). Kita minta untuk tidak dikembalikan ke 'suami'," kata Hariyanto.

Ia menambahkan, sejak 2016, pihaknya telah menerima 26 laporan. Mayoritas korban berasal dari Kalimantan Barat dan Jawa Barat. Hari menjelaskan, diperkirakan masih ada banyak perempuan yang menjadi korban. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah segera menelusurinya.

"Kita kalau suruh menelusuri dan memulangkan satu per satu nggak ada duit," ucapnya.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA