Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Defisit Anggaran 2019 Diprediksi Melebar

Rabu 17 Jul 2019 04:10 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Menteri Keuangan Sri Mulyani bersalaman Wakil Ketua DPR Agus Hermanto disaksikan oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo usai Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/7).

Menteri Keuangan Sri Mulyani bersalaman Wakil Ketua DPR Agus Hermanto disaksikan oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo usai Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/7).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pelebaran defisit dinilai tidak akan menimbulkan persoalan secara signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memprediksi kondisi defisit anggaran mengalami pelebaran hingga penghujung tahun 2019. Defisit tersebut ditaksir bakal mencapai Rp 310,8 triliun atau 1,93 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional. Sesuai Nota Keuangan APBN 2019, defisit anggaran sebelumnya diproyeksikan sebesar Rp 296 triliun atau sekitar 1,84 persen dari PDB. 

Baca Juga

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pelebaran defisit itu akibat adanya tekanan yang kuat terhadap perekonomian domestik. Kondisi itu turut memicu pelemahan penerimaan negara. 

"Defisit anggaran keseluruhan diprediksi sedikit lebih tinggi daripada defisit yang dianggarkan. Ini akibat tren pelemahan penerimaan dengan perekonomian yang mengalami tekanan," kata Sri dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (16/7). 

Pendapatan negara sampai dengan akhir tahun diprediksi hanya mencapai 2.030,8 triliun atau 93,8 persen dari target awal sebesar Rp 2.165,1 triliun. Sementara itu, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp 2.341,6 triliun atau 95,1 persen dari proyeksi awal Rp 2.461,1 triliun.   

Lebih rinci, Sri mengatakan, pendapatan negara tahun 2019 bersumber dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.643,1 triliun serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 386,3 triliun. Adapun belanja negara, berasal dari belanja pemerintah pusat Rp 1.527,2 triliun serta transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp 814,4 triliun. 

Kendati demikian, Sri mengklaim pelebaran defisit tersebut tidak akan menimbulkan persoalan secara signifikan. Termasuk, terhadap kondisi pembiayaan APBN hingga akhir tahun nanti. Adapun dengan tingkat defisit anggaran tersebut, keseimbangan primer diproyeksikan negatif Rp 34,7 triliun.

"Jadi, ini tidak masalah. Tidak terlalu terjadi deviasi dari sisi pembiayaan," kata Sri. 

Lebih lanjut, untuk realisasi sepanjang semester I 2019, defisit anggaran telah mencapai Rp 135,8 triliun, setara 0,84 persen terhadap PDB. Sri mengakui, realisasi defisit semester I 2019 tercatat lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu. Pada tahun lalu, defisit tercatat sebesar Rp 110,6 triliun atau 0,75 persen terhadap PDB. 

Defisit sepanjang semester I terjadi lantaran penerimaan negara hanya mencapai Rp 898,8 triliun sedangkan belanja negara sebesar Rp 1.034,5 triliun. Untuk dapat menutup defisit tersebut, pemerintah alhasil mengeluarkan pembiayaan anggaran sebesar Rp 175,3 triliun atau sekitar 59,2 persen dari pembiayaan hingga akhir tahun sebesar Rp 296 triliun. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA