Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Jabar Tingkatkan Pengaturan Irigasi Selama Kemarau

Rabu 17 Jul 2019 17:39 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Petani mencangkul diantara padi yang baru ditanam berumur tiga minggu di sawah yang mengering Desa Lingga Jaya, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (28/8). Memasuki musim kemarau sejumlah area persawahan di Tasikmalaya sudah mulai mengering dan sulit mendapatkan pasokan air, serta terancam gagal panen.

Petani mencangkul diantara padi yang baru ditanam berumur tiga minggu di sawah yang mengering Desa Lingga Jaya, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (28/8). Memasuki musim kemarau sejumlah area persawahan di Tasikmalaya sudah mulai mengering dan sulit mendapatkan pasokan air, serta terancam gagal panen.

Foto: Adeng Bustomi/Antara
Cara tersebut dilakukan agar pembagian air merata di seluruh lahan pertanian.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pengaturan irigasi di Jawa Barat akan ditingkatkan pada musim kemarau ini. Cara  tersebut dilakukan agar pembagian air terjadi secara merata di seluruh lahan pertanian.

Baca Juga

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Pemprov Jabar sudah berkoordinasi dengan pengelola bendungan dan bupati/wali kota di wilayahnya dalam mengatasi kekeringan dampak musim kemarau ini. Hasilnya, sejumlah langkah telah dilakukan untuk menekan dampak yang diakibatkan fenomena alam tersebut.

Pertama, kata Ridwan Kamil, setiap lahan pertanian akan mendapat pasokan air secara bergilir dari irigasi terdekat. "Menggilir, hitungannya harian. Sehari di kelompok tani ini, sehari di situ," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil di Bandung, Rabu (17/7).

Emil pun, memastikan pemerintah daerah di bawahnya akan memasok air untuk meminimalisasi dampak musim kemarau. Cara ini diperlukan untuk membantu masyarakat yang kesulitan memeroleh air bersih.

"Kedua, PDAM sudah bergerak untuk membuat truk-truk air, untuk menyuplai air bersih," katanya. 

Ketiga, kata dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BMKG untuk melakukan rekayasa cuaca jika musim kemarau berkepanjangan. Pemprov Jabar juga, mengkaji dengan BMKG untuk rekayasa cuaca. 

"Jadi ini sedang kita kerjakan. Jadi tiba-tiba langsung ke status itu bukan tidak mungkin, tapi sedang ikhtiar dulu," katanya. 

Sementara menurut Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekontruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Budi Budiman Wahyu, Provinsi Jawa Barat menyatakan sebanyak 27.997 kepala keluarga (KK) di provinsi ini kekurangan air bersih. Kekurangan air akibat terdampak musim kemarau tahun 2019. Musim kemarau juga, mengakibatkan 14.404 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan.

"Selain itu, ada 12 kabupaten/kota di Jawa Barat yang terdampak akibat musim kemarau tahun ini," katanya.

Budi menjelaskan, 12 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan adalah Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Subang, Kabupaten Karawang, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya. Budi menjelaskan, jumlah warga atau kepala keluarga yang kekurangan air bersih akibat musim kemarau di Jawa Barat paling banyak ada di Kabupaten Bekasi yakni mencapai 3.397 kepala keluarga. Kemudian, Kabupaten Cirebon sebanyak 2.167 kepala keluarga.

"Untuk membantu warga yang kekurangan air bersih akibat terdampak musim kemarau, kami telah menyalurkan bantuan air bersih hingga 307.600 liter," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA