Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Pengamat Nilai Kans Gerindra Besar Gabung ke Pemerintahan

Kamis 18 Jul 2019 23:08 WIB

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Andri Saubani

Presiden Joko Widodo bersama dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat pertemuan di FX Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7).

Presiden Joko Widodo bersama dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat pertemuan di FX Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7).

Foto: Republika/Prayogi
Relatif tak ada penolakan dari partai koalisi Jokowi-Ma'ruf jika Gerindra bergabung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti menilai, kemungkinan partai Gerindra bergabung dengan pemerintahan Jokowi-Ma'ruf amin lebih besar. Sebab tidak ada penolakan dari partai koalisi.

"Karena tidak ada resistensi dari partai-partai koalisi, khusunya partai politik besar dikubu pak Jokowi (PDIP dan Golkar)," ujar Ray dalam diskusi Formappi Membahas Isu Politik Aktual di Jakarta, Kamis (18/7).

Berbeda dengan PAN dan Demokrat, dua partai tersebut di nilai banyak mendapat penolakan dari partai koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin. Sehingga, akan menimbulkan kecemburan dalam di internal koalisi.

Untuk Gerindra, kata Ray, Jokowi akan dengan senang hati untuk menurunkan tensi politik pasca-Pilpres 2019. Dengan cara merangkul Gerindra, pemerintahan Jokowi dapat meredam gejolak perbedaan.

Selain itu, merapatnya Gerindra ke pemerintahan juga dapat membentuk tradisi baru. Karena, sejak Gerindra didirikan, Ray menyebut belum ada tradisi untuk terlibat dalam pemerintahan.

"Pilihan bergabung dengan pemerintahan itu sangat realistis bagi Gerindra," ujarnya.

Terkait ditinggalkan para pendukung partai, Ray menilai tak akan ada lagi kekecewaan. Karena, bergabung dengan pemerintahan sebagi wujud tindak lanjut dari pertemuan antara Jokowi dan Prabowo.

Dia menjelaskan, kekecewaan pendukung Prabowo, hanya terjadi saat pertemuan dengan Jokowi di MRT yang terjadi tanpa ada tanda-tanda. "Kalau Gerindra atau Prabowo masuk ke kabinet sudah tidak ada lagi (kekecewaan)," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA