Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Sindikat Penipuan Telepon Anak Kecelakaan Diringkus

Jumat 19 Jul 2019 19:20 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Indira Rezkisari

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono

Foto: Fakhri Hermansyah
Pelaku beraksi menelepon orang tua memberitahu anaknya kecelakaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Unit 2 Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya meringkus sindikat pelaku penipuan dengan modus anak kecelakaan. Sindikat telah melancarkan aksinya sejak 2009.

Baca Juga

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, sindikat penipuan terdiri dari tiga pelaku. Masing-masing berinisial A, M, dan AZ. Argo menyebut, para pelaku melakukan aksinya dengan cara menghubungi orang tua murid dan memberitahukan bahwa anak korban mengalami kecelakaan.

Sebelum menelepon orang tua murid, kata dia, pelaku A terlebih dahulu menghubungi dan menipu pihak sekolah untuk mencari data murid yang akan menjadi sasaran penipuan. Namun, Argo tidak merinci bagaimana cara pelaku A menipu pihak sekolah untuk mendapatkan nomor telepon orang tua murid tersebut.

Sementara itu, sambung Argo, pelaku M berperan sebagai kapten dan berpura-pura menjadi seseorang dengan profesi, seperti dokter, untuk meyakinkan pihak orang tua murid. Bahkan, kata dia, pelaku M dapat menirukan suara perempuan untuk melancarkan aksinya.

"Tersangka M, kadang berperan jadi dokter, guru, atau jaga apoteker. Setelah dia mendapatkan identitas atau data orang tua murid, dia akan menelepon (korban) dan berpura-pura bahwa anak korban di sekolah mengalami kecelakaan," papar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/7).

Setelah korban yakin dengan pernyataan pelaku yang awalnya menyamar sebagai guru, ia akan mengarahkan korban untuk menghubungi pihak rumah sakit atau dokter sesuai nomor telepon yang telah ia siapkan. Pelaku M pun kemudian menyamar sebagai dokter.

Tidak sampai di situ, pelaku M juga akan meminta korban kembali menghubungi pihak apotek yang juga masih merupakan modus penipuannya. Tujuannya untuk menebus obat maupun alat operasi, tergantung dari cerita bohong mengenai kecelakaan yang dibuat oleh pelaku M.

Setelah korban menelepon apotek sesuai arahan pelaku, korban akan diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening pelaku dalam waktu lima menit. Sementara itu, pelaku AZ akan memastikan korban sudah mentransfer uang yang diminta atau belum. Jika korban belum mentransfer uang, maka pelaku AZ akan menelepon korban kembali.

"Tapi setelah korban mentransfer sejumlah uang tersebut, selanjutnya korban melakukan pengecekan ke sekolah anak korban, diketahui bahwa anak tidak kenapa-napa," ujar Argo.

Polisi menangkap para pelaku di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Utara. Ketiganya diketahui berasal dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Adapun ketiga pelaku ini selalu beraksi satu kali dalam seminggu.

"Seminggu sekali minimal melakukan kegiatan ini. (Uang yang diminta) sekitar Rp 17-40an juta, tergantung kondisi. Tidak terlalu mahal supaya korban tidak curiga," imbuh Argo.

Akibat perbuatannya, ketiga pelaku dikenakan Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 4 dan Pasal 5 Juncto Pasal 2 ayat (1) huruf r dan atau z UU RI Nomor 8 tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian. Dengan ancaman hukuman penjara tujuh tahun dan atau 20 tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA