Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

30,8 Persen Balita di Tasikmalaya Menderita Stunting

Ahad 21 Jul 2019 23:07 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Hasanul Rizqa

Pemeriksaan rutin anak dalam rangka mencegah stunting

Pemeriksaan rutin anak dalam rangka mencegah stunting

Foto: Istimewa
Kabupaten Tasikmalaya masih tak bebas dari kasus balita kekurangan-gizi kronis

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Sebanyak 33,8 persen dari sekitar 120 ribu orang balita di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diketahui menderita kekurangan gizi kronis (stunting). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2018 itu menyebutkan, kondisi rawan stunting di Kabupaten Tasikmalaya tersebar di enam kecamatan, yaitu Cikatomas, Salopa, Jatiwaras, Puspahyang, Sukahening, dan Sukaresik.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Dadan Hamdani mengatakan, angka itu telah mengalami penurunan jika dibandingkan data stuntung pada 2013 yang mencapai 42 persen atau yang tertinggi ke dua di Jawa Bawat (Jabar). Menurut dia, Dinkes telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi stunting di Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menjelaskan, pihaknya penguatan tim penanggulanganan stunting sampai tingkat desa. Selain itu, pencegahan juga menyasar remaha putri dengan penyuluhan reproduksi. "Mulai SMP, SMA, dan santri di pesantren, kita lakukan penguatan untuk menjadi calon ibu," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (21/7).

Selain itu, Dinkes juga berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) untuk melakukan bimbingan kepada calon penganting (catin). Sementara dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), penguatan juga dilakukan dengan memperbaiki akses kesehatan lingkungan, penyediaan air bersih, hingga perilaku hidup bersih, termasuk di dalamnya memberantas perilaku buang air besar sembarangan (BABS).

Ia menyebutkan, saat ini 134 dar 351 desa di Kabupaten Tasikmalaya sudah dinyatakan bebas perilaku BABS atau Open Defecation Free (ODF). Menurut dia, angka itu mengalami peningkatan tinggi dibadingkan pada 2017 yang baru 16 desa ODF dan 2018 baru 68 desa ODF.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA