Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Kasus Novel Dibawa Hingga ke Kongres Amerika Serikat

Sabtu 27 Jul 2019 07:17 WIB

Red: Budi Raharjo

Novel Baswedan

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal bersama Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Novel Baswedan, Nurcholis dan anggota TGPF memberikan keterangan pers tentang hasil investigasi TGPF kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan di Mabes Polri, Jakarta,Rabu (17/7).

Amnesty International melaporkan kasus Novel kepada Kongres Amerika Serikat

Tanggung jawab
Polri menolak tudingan memasukkan kasus Novel ke dalam 'laci' impunitas. Kabag Penum Mabes Polri Kombes Asep Adi Saputra menegaskan, peristiwa yang dialami Novel akan diusut tuntas. Polri punya tanggung jawab menemukan pelaku dan menegakkan hukum yang adil.

“Kalau ada pendapat kasus ini tidak terungkap seolah-olah karena persoalan tidak ada kemauan (untuk) mengungkap, saya kira tidak,” kata Asep di Mabes Polri, Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (26/7).

Menurut Asep, Polri sejak awal kasus tersebut telah membuktikan diri berkomitmen melakukan pengungkapan. “Kemauan Polri untuk mengungkap kasus itu sangat kuat,” ujar dia. Kemauan kuat tersebut, kata Asep, dibuktikan dengan dibentuknya satgas, tim pencari fakta, dan tim teknis.

Kasus penyerangan terhadap Novel sudah lewat dua tahun. Penyiraman asam sulfat yang membuat mata sebelah kiri Novel rusak permanen terjadi pada 11 April 2017. Namun, pelaku penyerangan belum juga ditemukan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 8 Januari 2019 sempat membuat TPF yang beranggotakan 65 orang, penyidik kepolisian, pakar pidana, dan peneliti HAM, bahkan perwakilan KPK untuk mengungkap kasus penyerangan itu. Setelah enam bulan bekerja, TPF pun tak mampu menemukan siapa dalang dan pelaku penyerangan.

TPF dalam laporan setebal 2.700 halaman malah menebalkan motif kemungkinan yang menjadi penyebab penyerangan terhadap Novel. TPF meyakini, serangan tersebut dampak dari penggunaan kewenangan eksesif yang Novel lakukan dalam penyidikan lima kasus korupsi di KPK. Yaitu, kasus megakorupsi KTP elektronik, suap dan gratifikasi di Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA), kasus korupsi pembangunan wisma atlet di Palembang, serta kasus penangkapan tersangka korupsi bupati Buol di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Satu kasus di luar penyidikan KPK, yakni perkara burung walet di Bengkulu, yang Novel sidik saat bertugas di kepolisian, juga disebut TPF menjadi salah satu motif penyerangan. Atas ragam kasus tersebut, TPF meminta agar kembali diusut oleh Polri, yaitu dengan memberikan rekomendasi pembentukan tim teknis Polri untuk mencari pelaku penyerangan terhadap Novel yang bersumber dari enam kasus tersebut.n dessy suciati saputri/bambang noroyono. ed: satria kartika yudha

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA