Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Politikus PDIP Sebut Ketua Harian Bukan Tradisi Partainya

Sabtu 03 Aug 2019 02:13 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Andri Saubani

Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN), Aria Bima  di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/3).

Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN), Aria Bima di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/3).

Foto: Republika/Nawir Arsyad Akbar
PDIP selama ini menggunakan pola ketua umum dan sekretaris jenderal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus PDIP,  Aria Bima, mengatakan, parpolnya tidak punya tradisi menunjuk ketua harian dan wakil ketua umum (waketum). Sebab, PDIP selama ini sudah menggunakan pola ketua umum dan sekretaris jenderal (sekjen).

"Soal ketua harian dan waketum, semuanya (putusan) ada di kongres. Menurut saya itu bukan tradisi bagi PDIP, karena struktur itu akibat kebutuhan program dan kegiatan. Saya belum melihat pentingnya struktur sekarang ini ada ketua harian dan waketum," ujar Aria kepada wartawan usai mengisi diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (2/8).

Selain itu, posisi ketua bidang di PDIP pun saat ini sudah kuat, yang mana bisa langsung berkoordinasi dengan ketua umum dan sekjen.  "Yang menyangkut hal strategis ada di ketua umum,  sementara yang menyangkut operasional ada di sekjen.  Jadi ada kecenderungan tradisi waketum dan ketua harian tidak akan ada di keputusan kongres,'' tegasnya. 

Lebih lanjut,  Aria juga menanggapi potensi dua putra-putri Megawati, yakni Puan Maharani dan Prananda Prabowo sebagai ketua harian. Isu ini selalu mengemuka menjelang kongres PDIP.

Aria melihat keduanya punya potensi untuk menjalankan tugas sebagai ketua harian. Keduanya bisa bersinergi membagi peran di parpol. 

Akan tetapi, Aria, menilai keduanya lebih pas untuk disiapkan menjadi tokoh regenerasi pemimpin PDIP ke depan. Menurut dia, regenerasi di PDIP harus dilakukan secara menyeluruh, baik  eksekutif, legislatif dari pusat ke daerah.

"Karena seperti yang saya bilang tadi, kombinasi gaya kepemimpinan yang kharismatik dan yang lebih fungsional organis inilah yang saya kira bisa diterapkan pada 2024-2029. Organisasi yang modern yang lebih partisipatif yang aspiratif yang didukung kepemimpinan yang kharismatik dan fungsioner itu idaman organisasi PDIP kedepan sebagai partai modern dengan tidak kehilangan ruh ideologis," tambahnya. 




BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA