Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

LIPI: Kesiapsiagaan-Tata Ruang Hindari Korban Gempa

Sabtu 03 Aug 2019 13:00 WIB

Red: Ratna Puspita

Gempa terjadi di 147 km Barat Daya Sumur-Banten. BMKG mengumumkan gempa tersebut berpotensi tsunami.

Gempa terjadi di 147 km Barat Daya Sumur-Banten. BMKG mengumumkan gempa tersebut berpotensi tsunami.

Foto: BMKG
Masyarakat harus diedukasi agar melakukan tindakan tepat ketika gempa dan tsunami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto merekomendasikan untuk peningkatan kesiapsiagaan dan penataan ruang dan wilayah guna menghindari korban gempa. Ia mengatakan kuncinya pada penataan ruang di wilayah pantai.

Baca Juga

"Kita bisa memodelkan dari data yang kita miliki, kalau misalnya gempa raksasa itu terjadi dan memicu tsunami maka wilayah mana saja yang akan berpotensi untuk terlanda oleh tsunami itu, kemudian tata ruang jadi sangat penting pada konteks itu, di samping upaya lainnya yakni kesiapsiagaan, wujudnya adalah peringatan dini," kata Eko saat dihubungi, Jakarta, Jumat (2/8) malam.

Eko menuturkan masyarakat juga harus diedukasi untuk memahami dan bisa melakukan tindakan yang tepat pada saat ancaman gempa dan tsunami. Dia mengatakan jika yang dihindari gempa di darat maka rekomendasinya adalah membuat konstruksi rumah tahan gempa bagi warga yang mau membangun rumah atau sedang membangun rumah.

"Kemudian tata ruang untuk yang berada di laut di pantai maka perlu menghindari wilayah yang menjadi ancaman tsunami," ujarnya.

Namun, persoalannya tidak sederhana. Sebagian besar masyarakat yang harus dilindungi adalah masyarakat yang memiliki rumah dan tidak mungkin membangun rumah lagi lantaran biayanya mahal.

Untuk itu, ia mengatakan, harus ada upaya yang bisa dilkampanyekan dan yang dapat dilakukan masyarakat. Untuk itu, dia menyarankan perlunya ruang aman untuk setiap rumah.

"Satu rumah satu ruang aman. Ruang aman bisa berwujud sebuah ruangan yang memang diperkuat sehingga kemudian bisa digunakan untuk berlindung seluruh penghuni rumah ketika ada gempa," ujarnya.

Kemudian, bagian bawah atau kaki perabot rumah tangga diperkuat seperti meja dan tempat tidur sehingga ketika ada ancaman gempa, bisa dipakai untuk tempat berlindung.

Sementara untuk ancaman tsunami, Eko mengatakan jika benar-benar ingin menghindari ancaman itu, hal yang paling aman adalah menghindari wilayah yang sedalam ancaman genangan tsunami. Namun, konsep ini terkendala dengan kehidupan masyarakat yang jauh sudah ada di daerah rawan tersebut.

"Karena masyarakat juga terlanjur tinggal di wilayah-wilayah itu sehingga kemudian yang diupayakan adalah membuat masyarakat siap," ujarnya.

Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting untuk siap menghadapi berbagai ancaman dan tahu mengambil tindakan yang tepat saat ancaman bencana terjadi. Kesiapsiagaan itu dapat berupa informasi peringatan dini yang cepat sehingga masyarakat bisa secetoatnya mengambil tindakan menyelamatkan.

Tentunya, ia menambahkan, harus didukung dengan prasarana yang membantu masyarakat untuk bisa menyelamatkan diri seperti jalur-jalur evakuasi. Selain itu, perlu disediakan bukit penyelamatan atau 'shelter' untuk menyelamatkan diri dari ancaman tsunami.

"Masyarakat juga harus menyadari bahwa mereka perlu melakukan latihan-latihan untuk penyelamatan diri itu tadi sehingga pada saat ancaman datang mereka bisa mengambil tindakan yang tepat," tuturnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA