Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

MUI: Usia Minimal Laki-Laki dan Perempuan Menikah 21 tahun

Senin 05 Aug 2019 01:29 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ratna Puspita

Pernikahan dini (Ilustrasi).

Pernikahan dini (Ilustrasi).

Foto: IST
Pemerintah akan mengusulkan usia perkawinan minimal 19 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hasanuddin AF berpendapat usia minimal yang ideal bagi untuk laki-laki dan perempaun menikah, yakni 21 tahun. Menurutnya, usia menikah ini memang seharusnya disamakan.

Baca Juga

"Secara pribadi, menurut saya minimal 21 tahun, (untuk) laki-laki dan perempuan. Disamakan saja, mengapa tidak. Karena yang terpenting adalah kedewasaan dari keduanya. 21 tahun saya kira sudah minimal," kata dia, Ahad (4/8).

Hasanuddin juga mendorong agar UU 1/1974 tentang Perkawinan direvisi terutama pada poin yang membahas usia anak yakni pasal 7. Persoalan perkawinan anak ini perlu mendapat perhatian agar kemudian dilakukan perbaikan secara menyeluruh.

Perbaikan secara menyeluruh ini, kata Hasanuddin, harus memuat upaya pencegahan perkawinan anak. Namun dia menyadari, kerap kali perkawinan anak mendapat dispensasi dari pengadilan sehingga banyak terjadi perkawinan anak.

Menurut Hasanuddin, persoalan dispensasi perkawinan anak ini harus juga dibahas dalam proses merevisi UU Perkawinan Anak. "Dispensasi ini harus dipertimbangkan juga, apakah harus dihapus dispensasinya, atau alasan (pengajuan dispensasinya) harus diperberat," tambah dia.

"Misalnya kalau darurat, kalau si anak jadi pengen bunuh diri karena menanggung malu. Tapi darurat ini harus juga diuji terlebih dulu sedemikian rupa," kata dia.

Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Lenny N Rosalin mengatakan, pemerintah akan mengusulkan usia perkawinan minimal 19 tahun untuk merevisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pemerintah sudah menyelesaikan naskah akademik, naskah rancangan undang-undangnya dan melakukan harmonisasi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise sudah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo untuk meminta agar menerbitkan surat presiden sehingga revisi Undang-Undang Perkawinan bisa segera dibahas bersama DPR.

Pembahasan tentang revisi Undang-Undang Perkawinan oleh pemerintah hanya berfokus pada pasal 7 ayat (1) yang menyebutkan perkawinan hanya diizinkan bila pria sudah berumur 19 tahun dan wanita berumur 16 tahun.

Lenny mengatakan, azas revisi Undang-Undang Perkawinan adalah kesetaraan. Tidak boleh ada diskriminasi. Persamaan substantif dan nondiskriminasi. Jadi, tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Usia 19 tahun akhirnya dipilih karena sudah melebihi usia anak yang menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ditetapkan hingga 18 tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA