Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Cara Warga Jakarta Siasati Matinya Air Sejak Siang

Ahad 04 Aug 2019 20:33 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah penumpang menunggu Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Manggarai, Jakarta, Ahad (4/8).

Sejumlah penumpang menunggu Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Manggarai, Jakarta, Ahad (4/8).

Foto: Republika/Prayogi
Pompa air manual kembali digunakan agar warga bisa mandi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Padamnya listrik sejak siang hari membuat warga di Jalan Cempaka Baru Timur, Kemayoran, Jakarta Pusat, gerah. Tak sedikit dari mereka yang juga bermasalah pasokan air karena listrik padam itu.

Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa membersihkan diri menggunakan air bersih. Salah satunya dengan menggunakan pompa air manual, yakni pompa air dragon.

Sejak sore, sekira pukul 16.00 WIB, belasan warga mengantre di belakang rumah Ahadianto (42 tahun). Rumah pria yang kerap disapa Anto itu dengan rumah orang tuanya tersambung oleh kamar mandi dan tempat mencuci pakaian.

"Itu pompa dragon namanya," ujar Anto kepada Republika saat ditemui di kediamannya, Ahad (4/8).

Anto menuturkan, pompa air tersebut sudah ada di rumahnya sejak ia kecil. Ia lahir 42 tahun yang lalu, yakni pada 1977. Wiwiek (55 tahun), mengonfirmasi hal tersebut. Ia mengatakan, pompa air itu sudah ada sejak ia muda.

"Dari tahun berapa ya, zaman Anto kecil itu tahun 70-an apa ya. Dulu ada dua. Tapi sekarang tinggal satu," tutur Wiwiek.

Suara khas pompa air tak berhenti terdengar hingga pukul 18.30 WIB. Warga sekitar membawa ember dan galon kosong untuk diisi air tanah melalui pompa air milik orang tua Anto itu. Tak hanya satu, beberapa dari mereka membawa setidaknya dua galon dan ember dalam sekali datang.

"Tadi mompa berapa ember itu. Ada kali 10 ember. Satu ember bisa 15 kali mompa," kata Bhanu (33 tahun), salah satu warga yang ikut mengantre sejak sore.

Penggebuk drum salah satu band ska itu mengatakan, ia merasa cukup lelah harus memompa 15 kali dan diulang sebanyak 10 kali. Tapi, kata dia, itu tidak ada apa-apanya daripada tidak bisa menggunakan air sejak 11.48 WIB.

"Buat persediaan air di rumah. Capeklah pakai ditanya lagi. Air mati dari listrik mati sekitar jam 11.48 WIB. Sampe rumah mati air tadi. Kebantu dong (dengan adanya pompa ini). Kan ini bisa mandi, dari siang nggak mandi," kata dia.

Miftahul (32 tahun) mengaku baru pertama kali menggunakan pompa seperti ini. Biasanya, ketika di kampung, ia menimba air dari sumur di belakang rumahnya. Pria yang bekerja di bidang farmasi itu mengatakan, adanya pompa air ini sangat membantu karena air rumahnya mati sejak siang.

"Air kan kita butuh banget ya. Udah mati dari siang tadi jadi susah juga kita. Capek mompa sama angkut ember isi air berulang kali," kata pria yang jarak rumahnya hanya sekitar 5-10 meter dari rumah Anto.

Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani mengatakan PLN berhasil mengalirkan tegangan listrik ke Gardu Induk Tegangan Extra Tinggi (GITET) Balaraja pada Ahad (4/8) pukul 17.30 WIB. Selanjutnya aliran listrik menuju ke PLTU Suralaya agar dapat beroperasi secara bertahap mencapai kapasitas 2.800 MW.

Selain itu, kata Sripeni, dari GITET Gandul akan disalurkan ke PLTGU Muara Karang untuk memasok aliran listrik ke DKI Jakarta yang diperkirakan bertahap hingga tiga jam untuk pulih secara keseluruhan. "Fokus kami mengirim pasokan ke PLTGU Muara Karang dan PLTGU Priok agar sistem DKI Jakarta segera pulih," ujar Sripeni di Depok, Jawa Barat, Ahad (4/8).

Sripeni mengaku memimpin langsung proses pemulihan dari pusat pengendali beban sistem Jawa-Bali. Yaitu dari kantor pusat maupun di kantor unit.

"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan kondisi pada hari ini dan saat ini semua upaya dikerahkan untuk memulihkan sistem Jawa-Bali secara keseluruhan, khususnya area Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta," kata Sripeni.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA