Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Friday, 17 Sya'ban 1441 / 10 April 2020

Kebakaran Lahan dan Hutan Kepung Asia Tenggara

Kamis 08 Aug 2019 07:25 WIB

Red: Budi Raharjo

Pengendara sepeda motor melaju menembus kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) saat melintasi jalan Desa Pinem, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (6/8/2019).

Pengendara sepeda motor melaju menembus kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) saat melintasi jalan Desa Pinem, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (6/8/2019).

Foto: Antara/Syifa Yulinnas
BMKG identifikasi sekitar 18.895 titik panas di wilayah Asia Tenggara-Papua Nugini.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, kabut asap alias jerubu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bakal mengancam sebagian wilayah Asia Tenggara pada pekan-pekan mendatang. Berdasar kan hasil pemantauan selama dua pekan terakhir (25 Juli-5 Agustus 2019) BMKG mengidentifikasi terdapat sekitar 18.895 titik panas di seluruh wilayah Asia Tenggara dan Papua Nugini.

Deputi Meteorologi BMKG Mul yono Rahadi Prabowo mengungkapkan, informasi titik panas tersebut di analisis oleh BMKG berdasarkan citra Satelit Terra Aqua (LAPAN) dan Satelit Himawari (JMA Jepang). Menurut dia, peningkatan jumlah titik panas ini diakibatkan kondisi atmosfer dan cuaca yang relatif kering sehingga mengakibat kan tanaman menjadi mudah ter bakar.

"Kondisi tersebut perlu diper hatikan agar tidak diperparah dengan maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian dengan cara membakar," katanya dalam siaran pers, kemarin.

Hasil pemonitoran BMKG menun jukkan adanya tren titik panas meningkat di berbagai wilayah ASEAN, terpantau mulai 25 Juli sebanyak 1.395 titik meningkat menjadi 2.441 pada 28 Juli. Kemudian, titik panas mulai menurun pada 29 Juli menjadi sebanyak 1.782 titik dan menjadi 703 titik pada 1 Agustus.

"Jumlah titik panas meningkat kembali menjadi 3.191 pada 4 Agustus 2019. Titik panas itu terkonsentrasi di wilayah Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, bah kan juga terdeteksi di Serawak (Malaysia), Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Filipina," ujarnya menjelaskan.

Ia menerangkan, pada musim kemarau, pola angin dominan berasal dari arah tenggara. Hal ini mendorong arah penyebaran asap melintasi perbatasan wilayah negara-negara Asia Tenggara (trans boundary haze). "Dalam seminggu ke depan (6-12 Agustus 2019) wilayah Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina, Thailand, Malaysia, dan sebagian kecil Myanmar, Vietnam, Laos masuk kategori diprediksi sangat mudah terjadi kebakaran," ungkapnya.

Prabowo menerangkan, saat ini sebagian besar wilayah In donesia dan beberapa wilayah di ASEAN sedang mengalami musim kemarau monsun Australia. Selain itu, kondisi musim saat ini juga di pengaruhi oleh kondisi anomali suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang negatif.

Rilis BMKG ini dilansir selepas mulai munculnya keluhan kemunculan jerubu di negara tetangga Malaysia. Berdasarkan laporan ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) yang berbasis di Singapura, sepanjang 31 Juli hingga 7 Agustus, tercatat 144 titik panas di Kalimantan serta lima titik di Sabah. Akibat kabut asap tersebut, Indeks Polusi Udara di wilayah Semenanjung Malaysia dan Sarawak bagian barat meningkat.

photo
Petugas dari Satgas Karhutla Provinsi Riau berusaha memadamkan bara api yang membakar lahan gambut di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (26/07/2019).


Malaysia juga telah meminta negara-negara ASEAN mengambil langkah proaktif menghindari kabut asap lintas batas. "Malaysia juga akan mengaktifkan Rencana Aksi Pembakaran Terbuka Nasional yang baru dan menyempurnakan Rencana Aksi Kabut Asap Nasional yang sudah ada," tulis keterangan Kementerian Energi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Lingkungan, dan Perubahan Iklim negara tersebut dilansir the Straits Times, Rabu (7/8).

Malaysia akan mengangkat isu ini dalam pertemuan selama dua hari di Brunei yang telah dimulai pada Selasa (6/8) lalu. Wakil Menteri Energi Malaysia Isnaraissah Munirah Majilis memimpin delegasi Malaysia dalam Kelompok Kerja Teknis ke-21, termasuk pertemuan Komite Pengarah Kementerian Subregional tentang Polusi Asap Lintasbatas yang melibatkan sejumlah negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura, dan Thailand.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya menyesalkan munculnya kabut asap karhutla. "Saya kadang-kadang malu. Minggu ini saya mau ke Malaysia dan Singapura. Tapi, saya tahu minggu kemarin sudah jadi headline, jerubu masuk lagi ke negara tetangga kita," kata Jokowi, Selasa (6/8).

Presiden mengancam akan mencopot jabatan panglima Komando Daerah Militer dan kapolda di daerah yang tak mampu mengatasi masalah karhutla. (rizky suryarandika/ rizky zaramaya, ed:fitriyan zamzami)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA