Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020

Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020

Jokowi Malu Asap Kebakaran Hutan Sampai ke Malaysia-Singapur

Rabu 07 Agu 2019 10:44 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Karta Raharja Ucu

Presiden Joko Widodo memberikan arahan saat Rakornas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Presiden Joko Widodo memberikan arahan saat Rakornas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Jokowi minta masalah kabut asap segera diselesaikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Jokowi mengaku malu karena asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sampai Malaysia dan Singapura. Karena itu ia meminta masalah kabut asap bisa segera diselesaikan.

Presiden Jokowi memberikan arahan penanganan karhutla dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Karhutla 2019 di Istana Negara Jakarta, Selasa (6/8). Dalam arahan tersebut, Jokowi menyinggung asap yang sudah masuk ke Malaysia dan Singapura.

Jokowi mengatakan, pekan ini akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Ma laysia dan Singapura. Ia meminta masalah kabut asap bisa segera disele saikan di dua negara tersebut Pekan ini, saya mau ke Malaysia dan Singapura.

"Tapi, saya tahu pekan kemarin sudah jadi headline, jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita. Saya cek jerebu ini apa, ternyata asap. Malu kita kalau nggakbisa menyelesaikan ini," ujar Jokowi, Selasa.

Jokowi mengakui, tahun ini, kabut asap kembali muncul di negara tetangga meski skalanya berbeda dengan empat tahun lalu. Padahal, sejak 2016 sampai 2018 sudah tidak ada asap yang dikeluhkan pihak Malaysia dan Singapura.

Dalam penanganan karhutla, Jokowi meminta mengutamakan upaya pencegahan. Dengan demikian, kasus 2015 yang menyebabkan bencana asap ke negara tetangga tidak terjadi lagi.

"Kita ingat, 2015 dan tahun-tahun sebelumnya, karhutla selalu terjadi hampir di semua provinsi. Saya ingat kerugian saat itu mencapai Rp 221 triliun, peristiwa itu jangan sampai terjadi lagi," kata Jokowi.

Presiden meminta pemerintah daerah (pemda), gubernur, bupati, wali kota, dan dibantu jajaran TNI serta Polri seg era menyelesaikan masalah karhutla. "Kita ini kanpunya infrastruktur organisasi sampai ke bawah. Di desa ada Babinsa semuanya ada. Mestinya itu, begitu muncul kecil sudah ketahuan dulu," ujar Jokowi.

Jokowi juga menyinggung soal aturan main penanganan karhutla yang telah ditetapkan sejak terjadi bencana asap 2015 agar tidak terulang lagi. Ia meminta Panglima TNI dan Kapolri mencopot jajarannya yang tidak bisa menangani karhutla.

"Dan aturan main kita tetap, masih sama. Saya ingatkan pangdam, danrem, kapolda, kapolres, aturan main yang saya sampaikan 2015 masih berlaku. Yang tidak bisa mengatasi dengan perintah yang sama, copot kalau tidak bisa mengatasi yang namanya karhutla, " jelas Jokowi.

Jokowi juga meminta Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk melakukan penataan ekosistem gambut dalam kawasan hidrologi gambut lebih diperhatikan. "Kalau musimnya panas gini cek bener. Dan harus lakukan secara konsisten. Tinggi permukaan air, tanah, agar gambut tetap basah, dijaga terus, terutama di musim kering," lanjut Jokowi.

Presiden juga meminta penegakan hukum bagi pelaku yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan. "Saya lihat sudah berjalan cukup baik," kata Jokowi.

photo
Pengendara sepeda motor melaju menembus kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) saat melintasi jalan Desa Pinem, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (6/8/2019).

Pernyataan berbeda disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar. Ia memastikan, asap karhutla Indonesia tidak sampai ke wilayah Malaysia. Pernyataan Siti ini menjawab sejumlah media Malaysia yang menyebutkan asap karhutla Indonesia mampir ke negaranya.

"Saya minta anak-anak lapangan langsung tempel ke lokasi. Kan susah kalau pakai satelit itu kan bisa macam-macam selisih jarak. Anak-anak sudah ke perbatasan di Sanggau nggakada asap yang pindah," ujar Siti di Istana Negara, Selasa (6/8).

Siti juga menyebutkan, titik panas atau hotspotjuga terpantau di sejumlah wilayah di Malaysia. Pihaknya langsung mengutus tim di lapangan untuk meninjau langsung ke sejumlah titik perbatasan, termasuk Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Kementerian LHK, ujar Siti, juga sudah melakukan pengecekan kualitas udara di Malaysia. "Hasilnya, standar udara di Malaysia tercatat moderat. Jadi, pada dasarnya kita jaga saja deh," kata Siti.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA