Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Terumbu Karang Rusak karena Tumbahan Minyak

Jumat 09 Aug 2019 10:38 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih, Muhammad Nurysamsyi/ Red: Karta Raharja Ucu

Suasana tumpahan minyak mentah di pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8).

Suasana tumpahan minyak mentah di pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Tumpahan minyak bisa mengendap dan menutupi permukaan terumbu karang.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Ekosistem laut terancam oleh efek tumpahan minyak yang kian meluas. Tak hanya mengganggu keberlangsungan hidup manusia, tapi juga terumbu karang.

Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai (Forkadas) Citarum, Kabupaten Karawang, menduga tumpahan minyak sudah merambah ke terumbu karang. Ceceran minyak telah mencapai area terumbu karang setelah tiga pekan terakhir.

"Kami khawatir, tumpahan minyak ini merusak terumbu karang Ciparage dan Sendulang yang berjarak enam mil laut dari muara Pasir Putih," kata Sekretaris Forkadas Citarum Kabupaten Karawang, Yuda Febrian Silitonga, Kamis (8/8).

Menurut Yuda, berdasarkan pantauan citra satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), terlihat perbedaan antara luasan tumpahan minyak pada 18 Juli dengan 21 Juli lalu. Pada 18 Juli, kata Yuda, tumpahan minyak masih jauh dari lokasi terumbu karang.

Namun, lanjut Yuda, pada 21 Juli terlihat luasan tumpahan minyak mencapai ke terumbu karang Ciparage dan Sendulang. Pantauan terakhir hingga 6 Agustus lalu, tumpahan minyak belum terlihat di Cilamaya hingga Tempuran.

Yuda menjelaskan, ketika minyak tumpah ke perairan, bisa terapung, tenggelam kemudian larut, dan menguap. Hal tersebut memungkinkan tumpahan minyak bisa mengendap dan menutupi permukaan terumbu karang.

Terlebih, sambung Yuda, tumpahan minyak diketahui sudah mencemari hutan bakau di Cilebar, Sedari, Tambak Sumur, dan Pantai Beting Bekasi. Kejadian ini harus menjadi perhatian negara, khususnya permasalahan pemulihan ekosistem lingkungan.

"Kejadian ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem terumbu karang Ciparage dan Sendu lang, serta ekosistem mangrove," kata Yuda.

Hingga kini, tumpahan minyak masih menye babkan nelayan dan petambak menjerit. Dampak pencemaran limbah yang terjadi di sembilan desa membuat petambak udang terpaksa panen lebih awal.

Hendi Suhendi, petambak udang vaname asal Desa Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, mengatakan, saat ini panen udang vaname di perce pat dari jadwal yang telah ditentukan. Menurut dia, panen seharusnya dilakukan bulan depan.

"Alasannya, air lautnya sudah tercemar minyak. Jadi, kami tak berani mengisi tambak dengan air baru dari laut," ujar Hendi, Kamis.

Sebelum panen, kata Hendi, air tambak terpaksa diganti dengan air tawar untuk sirkulasi.Hasil panen juga menurun drastis. Biasanya Hendi mampu memanen tujuh sampai delapan ton. Kini, Hendi hanya mendapat empat ton.

Vice President Relations Pertamina Hulu Energi (PHE ONJW), Ifki Sukary mengatakan, pihaknya mempercepat pengeboran sumur baru relief well (RW) YYA-1RW, yang berfungsi menutup sumur YYA-1. Hingga saat ini, proses pengeboran sumur baru YYA-1RW mencapai kedalaman sekitar 624 meter dari target 2.765 meter.

Kami akan mengontrol sumur YYA-1 melalui sumur baru YYA-1RW ini sehingga nanti bisa secepatnya menutup sumur agar tidak lagi menumpahkan minyak, ujar Ifki saat jumpa pers di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis. Ifki mengatakan, sumur baru dibor secara miring menuju lokasi lubang sumur YYA-1 hingga mencapai titik kedalaman tertentu untuk menutup sumur YYA-1. Pengeboran sumur dimulai sejak Kamis pekan lalu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA