Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

ICMI Puji Peran Muhammadiyah untuk Indonesia Merdeka

Sabtu 10 Aug 2019 04:33 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Hasanul Rizqa

Ketua ICMI, Profesor Jimly Asshiddiqie meresmikan Pusat Kajian Sosial Politik Ekonomi dan Hukum Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam, Ahad (19/5).

Ketua ICMI, Profesor Jimly Asshiddiqie meresmikan Pusat Kajian Sosial Politik Ekonomi dan Hukum Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam, Ahad (19/5).

Foto: Republika/Riza Wahyu Pratama
Ketum ICMI Prof Jimly Asshiddiqie menilai, peran Muhammadiyah besar untuk Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Prof Jimly Asshiddiqie menegaskan, Muhammadiyah memiliki jasa yang sangat besar dalam mengantarkan bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Dalam proses pembentukan RI sebagai bangsa dan negara, lanjut dia, organisasi masyarakat (ormas) Islam ini berperan signifikan. Konsennya dimulai dengan membangun gerakan masyarakat madani.

"Mirip-mirip seperti apa yang dilakukan Rasullullah SAW. Sebelum mendirikan negara Madinah, sudah membangun masyarakat madani, masyarakat kota, peradaban urban Yatsrib yang kemudian berubah menjadi kota Madinah. Dari situlah muncul negara Madinah," kata Jimly Asshiddiqie dalam acara bertajuk "Muhammadiyah dan Kemerdekaan Indonesia" di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (9/8).

Baca Juga

Seperti diketahui, Persyarikatan Muhammadiyah lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah atau 18 November 1912 Masehi. Sembilan orang pengurus inti yang pertama adalah sebagai berikut. KH Ahmad Dahlan (ketua), Abdullah Sirat (sekretaris), dan Ahmad, Abdul Rahman, Sarkawi, Muhammad, Jaelani, Akis, dan Mohammad Fakih (ketujuh mereka sebagai anggota).

Jimly menambahkan, di Tanah Air fajar abad modern kian terasa sejak abad ke-20. Pada saat itu, mulai berdiri banyak organisasi kemasyarakatan di berbagai daerah. Bahkan, umat Islam bergerak lebih awal. Buktinya, sejak 1905 sudah ada Sarekat Dagang Islam (SDI).

"Banyak sekali ormas. Itu kekuatan civil society. Kebiasaan Indonesia. Baru di kemudian hari kita mendirikan organisasi negara. Sangat jauh berbeda dengan pengalaman negara-negara Barat," ucapnya.

Dia mencontohkan, kawasan Eropa. Organisasi nonpemerintah (non-government organization/NGO) atau ormas datang lebih belakangan daripada bentuk negara. Pada waktu Eropa terdiri atas kerajaan-kerajaan, tidak ada ormas.

Ormas muncul belakangan setidaknya sejak abad ke-15, yakni sesudah bangsa-bangsa Eropa mulai mengenal entitas partai-partai politik. Lama kelamaan, di antara kaum terpelajar Eropa muncul kebutuhan untuk mendirikan sayap organisasi partai politik. Maka terbentuklah ormas.

"Di Jerman, semua yang namanya NGO afiliasinya ke partai semua. Jadi, NGO kepanjangan tangan dari organisasi negara. Itu fenomena di Eropa di Amerika," terang mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Malahan, tak hanya Eropa. Beberapa negara di Asia pun demikian. Ambil contoh, Brunei Darussalam dan Arab Saudi. Di dua negara itu, eksistensi ormas tak lepas dari pengaruh dominasi negara.

"Brunei mana ada ormas di situ? Serikat buruh hanya ada dua. Di Saudi, satu-satunya ormas ya Rabhitah Alam Islami, sekjennya diangkat jadi raja. Bikin ormas 'haram' hukumnya. Jadi, fenomena kerajaan di banyak bangsa adalah munculnya organisasi masyarakat dari perpanjangan tangan negara," paparnya.

Namun, sejarah Indonesia berbeda daripada Brunei atau Arab Saudi, umpamanya. Sebab, berdirinya negara Indonesia dimulai dengan mendirikan kekuatan masyarakat madani. Contohnya dapat dilihat dari Muhammadiyah.

Menurut Jimly, bangsa Indonesia patut bersyukur karena Muhammadiyah sudah sukses ikut mengantarkan Indonesia menjadi negara merdeka. "Peranan tokoh-tokoh Muhammadiyah ini, kalau kita kaji satu per satu, luar biasa banyaknya," tuturnya.

Karena itu, Jimly mengungkapkan, wajar saja sejumlah nama tokoh Muhammadiyah mendapat gelar pahlawan nasional.

"Mulai dari Bung karno, Fatmawati, itu kan keluarga Muhammadiyah. Jenderal Sudirman, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, M Natsir, Buya Hamka, Djuanda, M. Roem. Semua tokoh nasional dan semuanya keluarga besar Muhammadiyah," imbuhnya.

Dalam konteks Agustus sebagai bulan kemerdekaan, Jimly juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk mengisi Indonesia Merdeka dengan memajukan dan mencerahkan kehidupan bersama. Ini supaya bangsa Indonesia bisa mencapai tingkat peradaban yang lebih baik, berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju. Harapannya, Indonesia menjadi peradaban bangsa keempat terbesar dalam masa mendatang.

"Mari kita rawat ini, kita isi kemerdekaan ini dengan segala usaha yang sudah dikerjakan selama 110 tahun oleh Muhammadiyah, kita sebagai generasi penerus, ya teruskan dengan memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta ini," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA