Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Harga Cabai di Dharmasraya tembus Rp 90 Ribu Per Kg

Senin 12 Aug 2019 15:26 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pedagang menghitung harga cabai dengan kalkulator.

Pedagang menghitung harga cabai dengan kalkulator.

Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Tingginya harga cabai diduga pasokan dari luar Sumbar berkurang.

REPUBLIKA.CO.ID, PULAU PUNJUNG -- Harga cabai merah di pasar tradisional Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat masih tinggi hingga tembus Rp 90 ribu per kilogram. "Dibandingkan minggu lalu sebelum Idul Adha harga cabai masih Rp 60 ribu per kilogram, itu pun masih tinggi," kata pedagang Cabai di Pasar Tradisional Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Iman di Pulau Punjung, Senin (12/8).

Ia menambahkan harga normal cabai merah berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. Menurut dia, tingginya harga cabai disebabkan pasokan dari sejumlah daerah di luar Sumbar berkurang sehingga untuk mengatasi pembeli pasokan cabai diambil dari lokal.

Komoditas yang stabil adalah tomat di kisaran harga Rp 10 ribu per kilogram, bawang merah Rp 16 ribu per kilogram, dan kentang Rp 12 ribu per kilogram. "Harga cabai rawit dan cabai hijau juga masih tinggi dikisaran Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu," ujarnya.

Ibu rumah tangga di Kabupaten Dharmasraya mengeluhkan masih tingginya harga cabai mencapai Rp 90 ribu per kilogram. "Tadi pagi saya belanja di Pasar Sikabau, satu kilo Rp 90 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp 100 ribu per tergantung kualitasnya." kata ibu rumah tangga Nurjanah (65 tahun).

Ia berharap pemerintah segara mengambil langkah agar harga cabai kembali stabil, karena apabila bahan pokok terus tinggi akan membebani perekonomian masyarakat. "Kita tentu berharap harga bahan pokok ini turun dan dapat dijangkau oleh masyarakat," ujarnya.

Tingginya harga cabai juga berdampak terhadap jual beli pedagang pakaian, misalnya Edi (52) mengakui omzet jualannya menurun. Ia mengatakan jika pada hari biasa omsem penjualannya bisa mencapai Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta, kalau kondisi saat ini hanya Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta.

Baca Juga

"Apa-apa sekarang mahal, sehingga masyarakat tentu mendahulukan memenuhi perlengkapan dapur sebelumnya membeli kebutuhan lainnya," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA