Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Kepulan Asap Masih Ditemukan di Gunung Ciremai

Selasa 13 Aug 2019 10:02 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini

Sebuah helikopter dari BNPB lepas landas dari lapangan milik warga untuk melakukan water bombing di lereng Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat, Jumat (9/8/2019).

Sebuah helikopter dari BNPB lepas landas dari lapangan milik warga untuk melakukan water bombing di lereng Gunung Ciremai di Kuningan, Jawa Barat, Jumat (9/8/2019).

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Pemadaman kebakaran hutan di Gunung Ciremai terus berlanjut.

REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN – Pemadaman kebakaran hutan di Gunung Ciremai terus berlanjut. Pada  Selasa (13/8) pukul 08.00 WIB, masih terdapat satu titik kepulan asap di Blok Sanghiyang Rangka jalur pendakian Apuy, Kabupaten Majalengka.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin, menjelaskan, sebanyak 15 personel sudah mulai berusaha melakukan pemadaman di titik tersebut sejak pukul 06.00 WIB. Pemadaman dilakukan secara manual.

Baca Juga

‘’Pemadaman dengan Heli Water Boombing Bell 412SP tak bisa dilakukan karena Gunung Ciremai saat ini tertutup awan. Heli stay di helipad Palutungan,’’ kata Agus, Selasa (13/8).

Agus menambahkan, Posko Palutungan terus melakukan pengiriman logistik secara estafet untuk tim Pos Taktis Lapangan di Blok Sanghiyang Ropoh. Selain itu, dilakukan pula penambahan personel lapangan.

Kebakaran hutan pertama kali diketahui melanda Blok Gua Walet, pada ketinggian 2.950 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang berjarak sekitar 0,3 kilometer dari puncak Gunung Ciremai, Rabu (7/8) sekitar pukul 13.00 WIB. kebakaran kemudian meluas ke sejumlah titik lainnya.

‘’Luas lahan yang terbakar saat ini diperkirakan sekitar 371 hektare, yang merupakan habitat Edelweis pada ketinggian 2.600 mdpl – 3.078 mdpl (meter di atas permukaan laut),’’ kata agus.

Agus mengungkapkan, kendala yang dihadapi dalam upaya pemadaman tersebut salah satunya karena lokasi kebakaran berada di atas ketinggian 2.600 – 3.078 mdpl. Selain itu, arah angin pun kerap berubah-ubah sehingga memicu meluasnya kebakaran dan membuat loncatan bara api.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA