Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Nasdem Nilai Demokrat Merapat karena Incar Kursi Kabinet

Selasa 13 Aug 2019 16:36 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Andri Saubani

 Irma Suryani Chaniago

Irma Suryani Chaniago

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Diterima atau tidaknya Demokrat gabung pemerintahan tergantung keputusan Presiden.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus Nasdem, Irma Suryani Chaniago menyebut manuver Demokrat yang berusaha bergabung dengan koalisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin karena Demokrat berusaha mengincar kursi di kabinet. Sebelumnya, Demokrat telah membantah mengincar kursi kabinet.

"Sepertinya semua partai politik yang mau gabung ke pemerintah saat ini pasti punya keinginan join di kabinet," kata Irma Suryani saat dihubungi, Selasa (13/8).

Kendati demikian, Irma menghormati pilihan politik Partai Demokrat untuk gabung ke pemerintah. Namun, keputusan menerima atau tidaknya Komisi Indonesia Kerja (KIK) akan diputuskan oleh presiden dengan pertimbangan partai-partai koalisi tertentu.

Irma menilai, Demokrat merupakan salah satu oposisi Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019, namun Demokrat tak menggunakan isu politik identitas unyuk menghantam Jokowi. Sehingga, wajar bila Demokrat ingin bergabung. Ia pun berpesan pada partai lain yang ingin bergabung agar tegap konsisten.

"Makanya partai yang kemarin membumihanguskan presiden dengan SARA, hoaks dan fitnah, sebaiknya belajar konsisten saja dulu pada konsituen, agar tetap memiliki kehormatan di hadapan publik," kata dia.

Partai Demokrat mengakui, mayoritas kadernya ingin bergabung dengan koalisi Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Kendati demikian, secara umum partai belum mengambil keputusan.

"Memang mayoritas memang ya sih ingin ya bergabung kalau, dengan catatan ya kalau memang chemistry dan kebersamaannya bisa dibangun," kata Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Kendati demikian, Syarief menegaskan keputusan Demokrat baru bisa diputuskan oleh rapat Majelis Tinggi. Kendati, Ia juga mengakui komunikasi dengan présiden terpilih Jokowi tetap diupayakan terus berjalan.

Sejauh ini, lanjut Syarief, suara-suara kader yang ingin mendukung Jokowi masih I berupa pandangan pribadi. Sementara, Demokrat sendiri masih menyusun agenda pertemuan majelis tinggi untuk menentukan posisi demokrat terhadap kabinet.

Terkait hubungan dengan Jokowi, Syarief mengklaim, Demokrat telah memiliki hubungan yang baik. Namun, Demokrat masih ragu dengan sikap partai-partai koalisi pendukung yang selama ini mendukung Joko Widodo bila Demokrat bergabung.

Baca Juga

Wakil Ketua Partai Demokrat Syarief Hasan membantah anggapan yang menyebut manuver partainya merapat ke koalisi pemerintahan sebagai upaya mengantar kursi di kabinet Jokowi-Ma'ruf. Syarief menegaskan, Demokrat tidak pernah meminta jatah kursi kabinet.

"Kami tidak pernah mengincar jatah kursi, kami tidak pernah minta kursi. Karena kami sadar itu adalah hak prerogatif presiden. Jadi kami jangan disamakan dengan partai lain," ujar Syarief Hasan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (13/8).

Kendati tak mengincar menteri, Syarief mengatakan, bukan berarti Demokrat mau bergabung tanpa mengajukan syarat. Syarief menyebut ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar Demokrat mau bergabung.

"Pertama kita chemistry-nya cocok apa enggak. Chemistry-nya dalam membangun bangsa cocok apa enggak. Programnya cocok atau tidak. Yang kedua kebersamaan ada atau tidak di dalam‎. Koalisi kan harus kompak. (ketiga) Kami nyaman atau tidak di dalam (koalisi)," kata Syarief.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA