Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Antisipasi Kemarau Panjang, TNI Siagakan Hercules

Selasa 13 Aug 2019 22:22 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Gita Amanda

Sejumlah prajurit TNI dan keluarga berjalan menuju pesawat Hercules sesaat sebelum lepas landas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (1/6).

Sejumlah prajurit TNI dan keluarga berjalan menuju pesawat Hercules sesaat sebelum lepas landas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (1/6).

Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Penggunaan helikopter untuk pemadaman karhutla dengan water bombing cukup efektif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, menyebutkan penggunaan helikopter untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah berlangsung cukup efektif. Jika kemarau panjang terus berlangsung hingga akhir September, ia akan mengerahkan pesawat hercules milik TNI.

"Titik-titik api itu tersebar, tapi tidak semuanya terbakar, hanya sebagian kecil, dan asapnya saja juga tidak begitu besar. Namun, harus kita waspadai agar tidak melebar kebagian lain,” ujar Hadi melalui keterangan persnya, Selasa (13/8).

Ia mengatakan hal itu usai meninjau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau melalui udara. Lebih lanjut Hadi menilai, penggunaan helikopter untuk pemadaman karhutla dengan cara water bombing cukup efektif.

Dalam pelaksanaan water bombing itu, satu helikopter bisa mengangkut hampir 10 ton air dalam satu kali naik. Air itu dikemas dalam bentuk bola-bola air. Setiap bola tersebut berkapasitas 108 liter yang dapat membasahi area kurang lebih 33 meter persegi.

“Sehingga ini terus kita siapkan, dan latih pilotnya supaya bisa masuk ke titik api sesuai dengan keinginan. Namun, apabila kemarau panjang berlangsung sampai akhir bulan September dan heli tidak mencukupi, maka kita akan segera luncurkan pesawat hercules,” katanya.

Panglima TNI juga mengatakan, ada alternatif lain untuk pemadaman karhutla di wilayah Pekanbaru, Riau. Alternatif itu, yakni bisa dilakukan dengan hujan buatan melalui teknik modifikasi cuaca atau biasa disebut TMC.

“TMC tergantung awan, kalau ada awan akan kita siram dengan Natrium Clorida,” ungkapnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA