Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Mengajak Anggota DI/TII dan NII Kembali ke Pangkuan NKRI

Rabu 14 Aug 2019 08:01 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Menko Polhukam Wiranto (keempat kiri atas) berfoto bersama dengan perwakilan Keluarga Besar Harokah Islam Indonesia, mantan anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) usai pembacaan ikrar setia kepada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Jakarta, Selasa (13/08/2019).

Menko Polhukam Wiranto (keempat kiri atas) berfoto bersama dengan perwakilan Keluarga Besar Harokah Islam Indonesia, mantan anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) usai pembacaan ikrar setia kepada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Jakarta, Selasa (13/08/2019).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Salah satu yang berikrar setia kepada NKRI adalah putra Kartosoewirjo.

REPUBLIKA.CO.ID, Di hadapan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, 14 orang yang berasal dari keluarga besar Harokah Islam, eks-Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)-Negara Islam Indonesia (NII) berikrar kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Salah satu di antaranya adalah putra tokoh utama DI/TII-NII, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, yakni Sarjono Kartosoewirjo.

Proses pembacaan ikrar berlangsung selama kurang lebih 40 menit. Ikrar dibacakan oleh empat orang yang menjadi perwakilan dari kelompok tersebut. Selain Sarjono, ada juga Aceng Mi'raj Mujahidin Sibaweh, putra imam DI/TII terakhir H Yudi Muhammad Aulia (cucu KH Yusuf Taujiri dan Prof Anwar Musaddad, pendiri DI/TII). Lalu, KH Dadang Fathurrahman, cucu dari Syaikhona Baddruzzaman yang merupakan guru Kartosoewirjo, Imam Sibaweh, Prof Mussadad, dan KH Yusuf Taujiri.

Setelah ikrar dibacakan, Wiranto memberi sambutan. Kemudian, pembacaan doa dilakukan. Berikutnya, satu persatu dari mereka yang berikrar mencium bendera Merah Putih dan bersalaman serta berpelukan dengan Wiranto.

"Hari ini mereka berikrar, sadar mengajak para pendukungnya, simpatisannya, para keturunannya untuk bersama-bersama berikrar bahwa satu-satunya ideologi di negeri ini adalah Pancasila. Itu luar biasa dan mengakui keberadaan NKRI sebagai wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Wiranto seusai kegiatan itu dilaksanakan di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (13/8).

photo

Keluarga besar Harokah Islam beseta eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan eks Negara Islam Indonesia (NII) bersama segenap pendukungnya berikrar kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika di Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Jakarta, Selasa (13/8).

Pada pidatonya saat proses pembacaan ikrar berlangsung, Wiranto menceritakan versi resmi pemerintah tentang perlawanan DI/TII pada masa awal kemerdekaan, yakni sejak 1949 hingga 1962. Ia mengatakan, negara Islam yang diproklamasikan Kartosoewirjo di Jawa Barat semata pemberontakan terhadap republik secara ideologis.

Namun, versi sejarah lainnya mencatat, latar utama berdirinya DI/TII dipicu kekecewaaan para laskar terhadap Perjanjian Renville. Selain itu, ada keberatan dari Kartosoewirjo dan pasukannya di Jawa Barat atas kebijakan pengangkatan tentara nasional di pusat.

"Dalam perjalanannya negeri ini membangun, pada 7 Agustus 1949 ada proklamasi NII," tutur Wiranto. Wiranto menceritakan secara singkat bahwa gerakan DI/TII diinisiasi pasukan perjuangan Hisbullah dan Sabilillah yang terus memperjuangkan ideologi baru melalui gerakan bersenjata.

"Sampai 1962. Gerakan bersenjata yang berpusat di Jawa Barat, tepatnya waktu itu di Tasikmalaya, dapat dinetralisir," kata eks panglima ABRI ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA