Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Soal Penarikan TNI dari Nduga, Kapendam: Ada Jaminan Aman?

Kamis 25 Jul 2019 22:21 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua, Rabu (5/12).

Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua, Rabu (5/12).

Foto: Antara/Iwan Adisaputra
Tak ada jaminan keamanan penarikan TNI-Polri dari Nduga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA— Kapendam XVII Cenderawasih, Kol Inf M Aidi, mengakui keberadaan TNI-Polri di Kabupaten Nduga untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Baca Juga

Sehingga kata dia, sangat tidak beralasan keberadaan TNI-Polri membuat rakyat ketakutan karena yang pasti dengan adanya aparat keamanan lah masyarakat merasa aman.

Sebaliknya, kata dia,  bila aparat keamanan ditarik, seperti permintaan Bupati Nduga Yarius Gwijangge, apakah dapat menjamin tidak ada lagi gangguan dari kelompok sipil bersenjata yang sering kali mengganggu masyarakat termasuk menyerang pos dan anggota TNI-Polri?

“Bupati Gwijangge apakah bisa menjamin dan menyerahkan anggota kelompok pimpinan Egianus Kogoya ke polisi untuk diproses hukum terkait berbagai tindak kriminal yang dilakukannya,” kata Aidi kepada Antara menyikapi adanya tuntutan penarikan pasukan yang kembali dilontarkan Bupati Nduga di Jayapura, Kamis (25/7).

Dia mengatakan, seharusnya Bupati Nduga tidak merasa keberatan dengan keberadaan TNI-Polri karena semata-mata menjaga keamanan di wilayahnya termasuk mengamankan pekerjaan pembangunan jalan Trans Papua yang melintas di wilayahnya.

KKSB pimpinan Egianus Kogoya, menurut Aidi, sering kali menyerang warga sipil bahkan pernah terjadi kasus pemerkosaan yang dilakukan kelompok tersebut terhadap para guru yang bertugas sehingga saat ini mereka tidak ingin kembali bertugas di Kabupaten Nduga.

“Aksi yang dilakukan KKSB sudah di luar peri kemanusiaan sehingga selain bertugas mengamankan wilayah tersebut juga mengakibatkan pengerjaan sejumlah ruas jalan dan jembatan yang ditinggalkan pekerjanya setelah diserang dan dibunuh KKSB di 2018 lalu,” jelas Kol Inf Aidi.

KKSB pimpinan Egianus Kogoya, Sabtu (20/7) menyerang camp anggota yang mengamankan pengerjaan pembangunan jembatan di Yuguru hingga menyebabkan satu anggota TNI meninggal dunia yakni Pratu (anumerta) Usman Hambela.

 

  

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA