Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Negara Berpotensi Rugi Triliunan Akibat Selundupan Asal Cina

Rabu 14 Agu 2019 20:56 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono (tengah), Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (ketiga kiri), Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombespol Iwan Kurniawan (kedua kanan), dan Kabid Penindakan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Bandung Siti Rulia (kanan) memberikan keterangan saat rilis pengungkapan kasus penyelundupan kosmetik, obat-obatan dan barang ilegal di Lapangan Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono (tengah), Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (ketiga kiri), Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombespol Iwan Kurniawan (kedua kanan), dan Kabid Penindakan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Bandung Siti Rulia (kanan) memberikan keterangan saat rilis pengungkapan kasus penyelundupan kosmetik, obat-obatan dan barang ilegal di Lapangan Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Polda Metro menyebut barang selundupan ilegal asal China telah masuk selama 8 tahun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polda Metro Jaya berhasil menggagalkan penyelundupan jutaan produk ilegal asal China. Polda menyebut potensi kerugian negara akibat masuknya barang-barang ilegal selama delapan tahun ini diperkirakan mencapai Rp 6,4 triliun.

Baca Juga

"Kerugian negara yang dihasilkan dari barang-barang itu sebesar Rp 17 miliar, itu sekali memasukkan barang. Kalau dimasukkan empat kali dalam sebulan itu bisa mencapai Rp 68 miliar, kalau dikalikan dalam setahun bisa mencapai RP 818 miliar," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono di Jakarta, Rabu (14/8).

Dalam pengungkapan tersebut. polisi turut mengamankan empat tersangka yakni PL (63), H (30), EK (44) dan seorang WNA China berinisial AH (40). Tersangka PL dan H diketahui sudah menjalankan aksinya selama delapan tahun. 

Sedangkan tersangka EK selama lima tahun dan AH baru setahun beraksi."Pelaku-pelaku ini sudah melakukan kegiatannya ada yang delapan tahun, ada lima tahun dan satu tahun," katanya.

Kalau dikalikan hitungannya bukan miliar lagi, kalau setahun itu Rp 800 miliar lebih, kalau delapan tahun Rp 6,4 triliun lebih. "Ini satu kelompok yang sudah beroperasi delapan tahun," katanya.

Adapun barang bukti yang diamankan dalam pengungkapan kasus tersebut, yakni 1.024.193 kosmetik dalam berbagai jenis dan merek, 4.350 bungkus makanan dengan berbagai jenis dan merek, 774.036 suku cadang kendaraan dari berbagai jenis dan merek dan 48.641 barang elektronik dalam berbagai jenis.

Selain itu petugas juga turut mengamankan delapan unit truk besar berjenis Fuso yang digunakan untuk mengangkut barang tersebut.

Para penyelundup tersebut menyelundupkan barang bernilai jual tinggi asal China. Barang-barang tersebut masuk melalui Pelabuhan Pasir Gudang di Johor, Malaysia, dan kirimkan ke Pelabuhan Kuching, Serawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Indonesia.

Barang-barang tersebut kemudian diselundupkan melalui jalan tikus ke wilayah Jagoi Babang di Kalimantan Barat. Barang selundupan itu kemudian diangkut ke Pontianak dengan truk besar menuju Pelabuhan Dwikora.

Barang selundupan itu kemudian diangkut dengan kapal menuju Pelabuhan Tegar di Marunda Center, Kabupaten Bekasi, dengan tujuan diedarkan di Jakarta.

Sementara itu Kabid Penindakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Siti Ruliah mengatakan, izin edar obat dan makanan sangat penting untuk memastikan produk tersebut bebas dari bahan berbahaya.

"Bahan apa yang terkandung harus melalui uji laboratorium, biasanya barang impor yang sering kita uji bahannya adalah mercuri pemutih yang bisa digunakan oleh ibu-ibu. Selain itu ada hidrokinon, itu juga zat pemutih juga. Padahal hidrokinon itu harus melalui resep dokter," tutur Siti.

Gatot mengatakan para pelaku dijerat dengan pasal berlapis karena aksi penyelundupan barang-barang ilegal telah melanggar sejumlah regulasi yakni, UU kesehatan, UU pangan, UU perdagangan dan UU perlindungan konsumen.

"Kita berikan pasal berlapis, mudah-mudahan ini membuat efek jera kepada mereka untuk tidak melakukan lagi dan kalau masih ada kelompok-kelompok lain akan dilakukan tindakan tegas," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA