Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Ketum Muhammadiyah: Jangan Pertaruhkan Nasib Umat dan Bangsa

Kamis 15 Aug 2019 14:34 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Hasanul Rizqa

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir seusai berceramah pada shalat Idul Adha di Masjid Agung Al-Azhar, Ahad (11/8) di Jakarta

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir seusai berceramah pada shalat Idul Adha di Masjid Agung Al-Azhar, Ahad (11/8) di Jakarta

Foto: Umar Mukhtar/Republika
Sambut HUT RI, Ketum PP Muhammadiyah ingatkan para pemimpin politik soal bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyambut hari ulang tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia, Muhammadiyah kembali mengajak segenap elemen bangsa untuk mempererat persatuan. Hal ini disampaikan Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Baca Juga

Menurut dia, Hari Kemerdekaan Indonesia kali ini dapat dimaknai sebagai momentum untuk seluruh warga bangsa, khususnya kalangan elite, untuk merenungi makna keindonesiaan secara mendalam.

"Seraya bertanya pada diri sendiri, hendak diapakan dan di bawa ke mana kepulauan anugerah Tuhan ini oleh seluruh elite dan warga bangsa menuju cita-cita negara idaman, negeri gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah --Red)?" kata Haedar Nashir keterangan yang diterima Republika.co.id, Kamis (15/8).

Dia menambahkan, elite dan warga bangsa wajib bertanggung jawab untuk mewujudkan upaya Indonesia menjadi negara-bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, maju, adil, dan makmur. Itulah cita-cita para pendiri bangsa yang telah berjuang mengusir kolonialisme pada masa silam. Nasihat ini terutama tertuju kepada para pemimpin bangsa. Sebab, mereka adalah pemangku amanat utama bangsa dan negara.

"Peran dan tanggungjawab para pemimpin sangat penting dalam menentukan masa depan Indonesia setelah 74 tahun merdeka. Kata pepatah Itali, bahwa 'Ikan busuk dimulai dari kepala'," ujarnya.

 

Besarnya Peran Pemimpin

Bagi Haedar, betapa penting posisi dan peran para pemimpin di negeri dan umat mana pun. Putih dan hitamnya umat dan bangsa tergantung pada pemimpinnya. Pemimpin itu ibadat jantung dan kepala dari tubuh manusia. Jika pemimpin itu baik, maka baiklah seluruh umat dan bangsa.

"Sebaliknya nasib umat dan bangsa akan nestapa manakala para pemimpinnya berperangai dan bertindak buruk, khianat, dan ugal-ugalan. Padahal yang dipertaruhkan nasib manusia yang banyak dengan segala urusannya," paparnya.

Haedar juga meyakini, masih banyak elite dan warga bangsa yang jernih hati dan pikirannya, termasuk tindakannya untuk membangun Indonesia yang berkemajuan dalam bingkai cita-cita luhur dan masa depan peradaban bangsa.

"Maka saatnya energi positif ruhaniah dan kecerdasan akal-budi bangsa Indonesia di tangan para pemimpin dan warga bangsa di seluruh persada tanah air digelorakan untuk menggoreskan tinta emas 74 tahun Indonesia Merdeka," katanya.

Para pemimpin, lanjut Haedar, punya kemuliaan posisi dan peran dalam membawa nasib umat dan bangsanya menuju tangga kemajuan. Nasib ini jangan dibiarkan menjadi pertaruhan tak berguna dan tak bermakna di tengah kegaduhan politik yang disebar oleh para aktor yang haus kuasa dan tahta minus pertanggungjawaban moral politik nurani yang luhur.

Menurut Haedar, ketika kontestasi dan rebutan kursi politik makin bebas dengan segala hasrat dan kepentingan para elite, maka di sisi lain sebetulnya umat dan bangsa ini tengah menanti jaminan ubahan nasib hidupnya ke tangga terbaik di pundak para pemimpinnya.

photo
Mural cinta Pancasila (Ilustrasi).

"Mereka berebut kursi untuk dan atas nama apa? Untuk benar-benar kepentingan rakyat atau hanya memperjuangkan diri dan golongan sendiri?," ucap mantan pemimpin redaksi Majalah Suara Muhammadiyah itu.

Karena itu, Haedar menyatakan para pemimpin bangsa mesti melipatgandakan pengorbanannya untuk rakyat di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Jangan sebaliknya, para pemimpin menyandera nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya karena hanya menuruti hasrat kuasa yang melampaui takaran dan merugikan kepentingan bangsa dan negara.

"Kiai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammmadiyah dalam falsafahnya yang keenam berpesan: "Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat, belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah," jelas Haedar.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA