Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Gus Yasin Kenang Senyum Terakhir Mbah Moen Usai Bertemu Mega

Jumat 16 Aug 2019 19:27 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Andri Saubani

Teladan Mbah Moen

Teladan Mbah Moen

Foto: Republika
Mbah Moen wafat saat menjalankan rangkaian ibadah haji di Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin atau Gus Yasin, mengenang senyuman terkahir almarhum KH Maimun Zubair (Mbah Moen) sebelum wafat. Senyuman yang disebutnya mencerminkan kelegaan itu terjadi sebelum Mbah Moen bertolak ke Arab Saudi. 

Gus Yasin menuturkan, selama hidupnya Mbah Moen selalu ingin Indonesia damai. "Beliau juga sangat senang dengan bertemunya para pemimpin negara ini, " ujar Gus Yasin saat memberikan sambutan dalam doa bersama mengenang wafatnya Mbah Moen di Kantor DPP PPP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/8).

Dia melanjutkan, sebelum berangkat menunaikan ibadah haji, ayahandanya sempat singgah di rumah dinasnya di Semarang. Saat di sana, Mbah Moen lebih banyak berdiam di kamar. 

"Beliau tidak keluar-keluar. Di kamar saja," lanjut Gus Yasin mengisahkan seolah ada beban pikiran berat yang disimpan ayahnya. 

Kemudian, Mbah Moen bertolak ke Jakarta untuk bersiap berangkat haji. Almarhum sempat bertemu dengan Megawati Soekarnoputri di kediamannya, Jl Teuku Umar, Menteng.

"Setelah bertemu dengan Ibu Mega, beliau merasa senang. Seolah beban itu hilang, " ungkapnya. 

Lantas Gus Yasin menceritakan bagaimana ayahnya tersenyum sesaat sebelum berangkat ke Arab Saudi. Senyuman itu seolah mengisyaratkan kelegaan dan kebahagiaan.

"Yang saya saksikan ketika melihat beliau di garbarata (area di antara ruang tunggu dan pesawat) saya tidak pernah saksikan beliau tersenyum seperti itu, " katanya yang dilanjutkan dengan isak tangis. 

Beberapa saat kemudian Gus Yasin mengulangi kalimatnya.  "Senyum beliau itu adalah senyum terkahir yang saya belum pernah lihat senyum seperti itu selama hidup beliau, " tuturnya. 

Gus Yasin pun menambahkan, sesuai dengan cita-cita Mbah Moen, keluarga ingin PPP kembali menjalankan fungsinya sebagai partai penyeimbang dan pemersatu bangsa.  "Hingga akhir hayatnya, hingga pemakaman beliau, kita bisa melihat ibaratnya beliau ingin menyatukan 'balung pecah' (tulang yang berserakan). Di mana seluruh masyarakat Indonesia bersatu di pemakaman beliau, " tegasnya. 

KH Maimun Zubair wafat di Makkah, Arab Saudi, 6 Agustus lalu. Jenazah Mbah Moen dimakamkan di Al Ma'la,  Makkah, Arab Saudi. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA