Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Mengenal Al-Jahiz, Ahli Zoologi Abad Pertengahan

Senin 19 Agu 2019 13:00 WIB

Rep: Mozaik Republika/ Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Al-Jahiz sangat berjasa dalam pengembangan ilmu biologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ratusan tahun sebelum ahli biologi Barat mencetuskan berbagai teori, seperti evolusi, seleksi alam, perjuangan untuk hidup ( struggle for existence), serta rantai makanan, al-Jahiz pada abad ke-9 M telah mengungkapkannya.

Al-Jahiz. Begitulah Abu Uthman Amr Ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al- Basri kerap dijuluki. Ia adalah ilmuwan Muslim termasyhur pada abad ke-9 M. Al-Jahiz merupakan sarjana Muslim legendaris serbabisa yang menguasai sastra Arab, ilmu-ilmu keislaman, biologi, tata bahasa, sejarah, psikologi, retorika, serta zoologi.

‘’Al-Jahiz adalah seorang ilmuwan terhebat dan pengarang dengan gaya bahasa menakjubkan di abad ke-9 M,’‘ puji ilmuwan Barat, Christopher Dawson. Kiprahnya sebagai sastrawan agung telah membuat dunia Barat mengaguminya. ‘’Dia adalah salah seorang penulis prosa terhebat dalam dunia sastra Arab klasik,’‘ tutur Bernard Lewis. Pujian serupa juga diungkapkan HAR Gibb dan Philip K Hitti.

Hitti yang termasyhur dengan bukunya berjudul History of Arabs mengatakan, ‘’Al-Jahiz adalah salah seorang penulis yang produktif dan ke rap dikutip para sarjana dalam li teratur Arab.’‘ Gibb menjuluki al-Ja hiz sebagai sastrawan yang mencetuskan gaya prosa Arab. Semua ko men tar dan pujian itu menunjukkan betapa al-Jahiz adalah sarjana Mus lim fenomenal yang karyanya mampu menembus sekat waktu dan geografis.

Selain dikenal sebagai sastrawan besar sepanjang masa, al-Jahiz juga telah berjasa mengembangkan ilmu biologi. Ratusan tahun sebelum ahli biologi Barat mencetuskan berbagai teori, seperti evolusi, seleksi alam, perjuangan untuk hidup (struggle for existence), serta rantai makanan, al- Jahiz pada abad ke-9 M telah mengungkapkannya.

Sayangnya, buah pikirnya itu telah diklaim peradaban Barat. Ironisnya, umat Islam di era modern tak mengetahui pencapaian ilmuwan Muslim di era keemasan. Tak heran jika sekolahsekolah di Indonesia negara Islam terbesar di dunia baik itu sekolah umum maupun agama tak mengajar kan penemuan penting itu kepada siswanya.

Para siswa hanya diajari ilmu biologi Barat yang telah ‘mencuri’ buah pemikiran ilmuwan Islam. Akibatnya, mereka lebih mengagumi Barat ke timbang pencapaian ilmuwan Islam di era kekhalifahan. Gagasan orisinal al- Jahiz mengenai sederet teori penting dalam ilmu biologi itu, dipaparkannya dalam Kitab al-Hayawan (Buku tentang Binatang).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA