Jumat, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Jumat, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Keluarga Besar Papua di Surabaya Tegaskan tak Pernah Diusir

Senin 19 Agu 2019 17:50 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani

Pelabuhan Manokwari

Pelabuhan Manokwari

Foto: Foto: Humas Ditjen Hubla
Pieter juga menegaskan, tidak ada pengusiran terhadap warga Papua di Surabaya

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Pieter F. Rumaseb menegaskan keamanan warga Papua, termasuk para mahasiswa yang ada di Surabaya. Pieter juga menegaskan, tidak ada pengusiran terhadap warga Papua yang ada di Surabaya. Pieter meyakinkan, jika ada informasi terkait pengusiran warga masyarakat Papua yang tinggal di Surabaya, itu merupakan informasi bohong atau hoaks.

"Saat ini saya bersama senior Papua di Surabaya, menyampaikan terkait adik mahasiswa dan warga Papua di Surabaya tentang pengusiran itu informasi hoaks. Kami di Surabaya baik, adik  mahasiswa hidup dengan damai," kata Pieter ditemui di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (19/8).

Pieter menegaskan, tidak ada perlakuan diskriminatif dari aparat penegak hukum yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua. Termasuk saat jajaran Polrestabes Surabaya mengamankan 43 mahasiswa Papua, Pieter mengaku pengamanan tersebut dilakukan dengan baik. Bahkan saat proses pemulangan pun, mahasiswa Papua diantarkan dengan baik.

"Saat kejadian, bahkan selama dua hari terakhir saya ada di sana (asrama mahasiswa Papua. Kalau ada pemberitaan (mahasiswa) dipukul atau meninggal itu hoaks. Kepolisian bawa ke Polrestabes dengan baik, dipulangkan jam 12 malam juga dalam keadaan baik," ujar Pieter.

Terkait adanya ucapan atau tindakan dari Ormas yang mendatangi asrama mahasiswa Papua yang berbau rasisme, Pieter tidak menyangkalnya. Apalagi, ucapan berbau rasis tersebut menurutnya telah beredar di media sosial. Namun, Pieter beserta mahasiswa Papua, menyerahkan sepenuhnya kepada aparat berwajib, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Terkait adanya ucapan kata yang menganggu kenyamanan masyarakat kita di sana (Papua), kami serahkan ke prtugas kepolisian dan keamanan. Kalau itu (ucapan berbau rasis) kan sudah bisa dimonitor, di media ada. Kita serahkan ke kepolisian," kata Pieter. Termasuk insiden perobekan bendera Indonesia, Pieter juga menyerahkan ke aparat kepolisian untuk mencari pelakunya.

Pieter berharap, masyarakat yang ada di Papua dan Papua Barat bisa meredam diri. Dia pun kembali menegaskan, warga masyarakat Papua yang ada di Surabaya hidup dan menuntut ilmu dengan aman tanpa ada masalah. Dia juga mengingatkan agar semua warga masyarakat tidak mudah terprovokasi atau terpancing isu-isu di media sosial.

"Kita herharap semua bisa positif thinking, kepala dingin, menyikapi permasalahan ini. Bila ada info beredar tidak baik, diharapkan selektif. Hati-hati menyikapi itu. Kepada semua masyarakat, jangan cepat terprovokasi atau terpancing di media sosial," ujar Pieter.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA