Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Pascaricuh di Papua Barat, Puluhan Fasilitas Umum Rusak

Selasa 20 Agu 2019 16:56 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andi Nur Aminah

Kondisi bangunan yang terbakar pascakerusuhan di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/02/2019).

Kondisi bangunan yang terbakar pascakerusuhan di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/02/2019).

Foto: ANTARA FOTO
Pemda harus bersedia memberikan bantuan dan memperbaiki aset yang rusak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Insiden kerusuhan saat aksi protes warga Papua, di kota-kota Papua Barat membuat 25 fasilitas umum rusak. Di Kota Manokwari, kepolisian mencatat 10 bangunan milik umum rusak.

Baca Juga

Sedangkan di Kota Sorong, aksi unjuk rasa juga membuat 15 fasilitas umum mengalami kerusakan. Akan tetapi, kepolisian belum berencana melakukan penyidikan dan mencari tersangka pelaku pengrusakan tersebut.

“Kepolisian bersama TNI (Tentara Nasional Indonesia) mempriortiaskan untuk dapat meredam situasi dan meminimalisir agar aksi perusakan tidak semakin meluas,” ujar Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, di Humas Polri, Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa (20/8).

Meskipun ia mengakui aksi perusakan itu membuat adanya kerugian materiil, tetapi untuk memastikan situasi yang kondusif, penegakan hukum perlu ditunda. “Langkah-langkah persuasif untuk mencegah, dan meminimlaisir jatuhnya korban jiwa, itu jauh lebih penting,” sambung Dedi.

Pemerintah daerah, Dedi mengatakan, harus bersedia memberikan bantuan, dan perbaikan aset-aset yang mengalami kerusakan. Sementara kepolisian dan tentara, selain memberikan jaminan pengamanan, juga ikut membantu memulihkan situasi, dan bersama masyarakat membersihkan lingkungan. “Sisa-sisa akibat pembakaran, dan pohon-pohon yang ditumbangkan, sudah dibersihkan hari ini,” sambung dia.

Kerusuhan pecah di sejumlah kota di Manokwari, dan Sorong, Papua Barat pada Senin (19/8). Kerusuhan itu berawal dari aksi turun ke jalan warga Papua. Mereka protes dengan insiden pengepungan dan prilaku rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, dan Semarang.

Aksi protes turun ke jalan itu, serempak juga terjadi di Kota Jayapura, Papua. Di Sorong, aksi protes turun ke jalan, masih terjadi sampai Selasa (20/8) siang waktu setempat.

Sedangkan di Manokwari, dan Jayapura, Polri mengatakan, aktivitas sudah normal dan kondusif. Meski begitu, Mabes Polri menambah jumlah personel pengamanan ke wilayah itu. Dedi melanjutkan, pada Selasa (19/8), pasukan pengamanan dari Polda Maluku, Sulawesi Tengah dan Utara merapat ke Papua Barat.

“Ada penambahan pasukan empat ssk (satuan setingkat kompi),” terang dia. Pada Senin (19/8), pengamanan di Kota Manokwari, kepolisian menerjunkan tujuh ssk, dan dibantu dua kompi satuan tentara.

Dedi menerangkan, penambahan pasukan itu bukan dalam rangka represif. Melainkan kata dia, untuk memberikan jaminan keamanan di Papua Barat, dan Papua. “Polri bersama TNI hanya ingin memberikan rasa aman, supaya tindakan-tindakan yang destruktif tidak terjadi lagi,” kata dia. Ia pun memastikan, personel kepolisian yang akan mengawal situasi keamanan di kota-kota tersebut tak dilengkapi peluru tajam.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA