Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

1.644 Ha Sawah Terancam Kekeringan di Karawang

Selasa 20 Agu 2019 22:56 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Andi Nur Aminah

Petani memanen padi di area persawahan yang dilanda puso di Desa Mane Kareueng, Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (27/7).

Petani memanen padi di area persawahan yang dilanda puso di Desa Mane Kareueng, Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (27/7).

Foto: Antara/Rahmad
Sawah yang puso ini, terjadi di wilayah sawah tadah hujan.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, melansir 1.644 hektare areal persawahan di wilayah ini terancam kekeringan. Bahkan, yang saat ini sudah mengalami puso mencapai 123 hektare. Serta, ada 239 hektare lagi yang kondisinya kekurangan air.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Wawan Kuswandi, mengatakan, pada musim kemarau 2019 ini, sudah terlihat dampaknya bagi pertanian di wilayah ini. Karena, sudah 123 hektare sawah mengalami puso. "Sawah yang puso ini, terjadi di wilayah sawah tadah hujan," ujarnya, Selasa (20/8).

Baca Juga

Meski demikian, areal sawah yang mengalami puso itu akan mendapatkan asuransi usaha tani pertanian. Karena, sawah tersebut sebelumnya telah diasuransikan. Sehingga, petani yang mengalami kegagalan panen karena musim kemarau ini, bisa sedikit bernapas lega. Sebab, ada pengganti dari asuransi.

Untuk menghindari semakin meluasnya areal sawah yang puso, pihaknya menghimbau supaya para petani tidak memaksakan tanam padi jika kesulitan air. Sebagai solusinya, areal sawah itu bisa ditanami tumbuhan produktif lainnya. Seperti, palawija dan sayuran.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur, U Saefudin Noer, mengatakan, pihaknya mengoptimalkan pengelolaan pasokan air untuk mengairi persawahan. Mengingat, pasokan air menjadi krusial saat musim kemarau. Apalagi, pada tahun ini musim kemaraunya cukup panjang.

"Supaya tak terjadi konflik berebut air, pasokan air ke hilir terus kita kawal. Salah satunya, dengan program gilir giring. Air yang kita gelontorkan dari Waduk Jatiluhur ini, digilir supaya semua kebagian, dan digiring supaya tepat sasaran," jelasnya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA