Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Jokowi Pertanyakan Langkah PKB Adakan Muktamar di Bali

Selasa 20 Aug 2019 23:28 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Andi Nur Aminah

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan keterangan ke awak media usai menyambangi Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan keterangan ke awak media usai menyambangi Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8).

Foto: Republika/Febrianto Adi Saputro
PKB Sebagai partainya Nahdiyin dekat dengan masyarakat Hindu.

REPUBLIKA.CO.ID, BALI -- Langkah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengadakan Muktamar V PKB di Bali dipertanyakan Presiden Joko Widodo. Ia curiga, PKB hendak mengincar suara yang besar di Pulau Dewata seperti PDI-P.

"Kita patut bersyukur bahwa hari ini PKB menyelenggarakan muktamar di Bali setelah 12 hari yang lalu PDI-P juga menyelenggarakan kongres di Bali," ujar Jokowi dalam sambutannya pada Muktamar V PKB di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/8).

Baca Juga

Jokowi mengaku beberapa kali berpikir melihat langkah PKB yang mengikuti partainya itu. PDI-P, kata dia, memiliki alasan kuat untuk mengadakan kongres di Bali. Itu karena Bali merupakan basis suara terkuat bagi PDI-P.

"Terus kalau PKB mengadakan muktamar di Bali juga pasti ada alasannnya. Saya tidak tahu alasannya apa. Saya hanya nebak-nebak. Jangan-jangan PKB juga ingin raih suara besar di Bali. Hati-hati Pak Gub, hati-hati," kelakarnya.

Meski begitu, ia mengaku melihat PKB sebagai partainya nahyidin. Nahdiyin, ujar dia, dekat dengan masyarakat Hindu. Ia pun yakin, tujuan akhir PKB mengadakan muktamar di Bali adalah untuk persatuan dan kebangkitan bangsa.

Setelah itu, ia memaparkan soal rencana pemerintah dalam lima tahun ke depan. Rencana yang menurutnya merupakan hal-hal yang cukup sulit untuk dilalui dan dikerjakan. Di antaranya, yakni mengatasi stunting dan melakukan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Jokowi juga mengisahkan pertemuannya dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Syekh Mohammed bin Zayed al-Nahyan, pada 2015 lalu. Ketika itu keduanya membicarakan tentang kunci dari lompatan jauh perekonomian Abu Dhabi, yakni dengan mengandalkan kecepatan.

"Ke depan tidak lagi negara besar menguasai negara kecil. Tapi negara cepat yang akan menguasai negara yang lambat," katanya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA