Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

PP, FKPPI dan FPI Meminta Maaf

Rabu 21 Aug 2019 07:55 WIB

Red: Budi Raharjo

Sejumlah orang keluar dan mengangkat tangannya di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019).

Sejumlah orang keluar dan mengangkat tangannya di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019).

Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Mereka hanya ingin kibarkan Merah Putih di asrama Papua, yang selama ini ditolak.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Sebagian organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu, dikumpulkan di Mapolda Jatim, Surabaya, Selasa (20/8). Dalam kesempatan itu, mereka meminta maaf jika ada tindakan yang memicu kemarahan warga Papua.

Tiga OKP yang mendatangi Polda Jatim itu adalah Front Pembela Islam (FPI), Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia (FKPPI), dan Pemuda Pancasila (PP). "Kami atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas, menyampaikan permohonan maaf apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan (kata rasis) itu," kata perwakilan OKP Tri Susanti, saat mendatangi Mapolda Jatim.

Perempuan yang akrab disapa Susi itu menyatakan, forum yang digelar juga menjadi kesempatan ormas terkait untuk menjelaskan dan mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi di lokasi. "Jadi memang ini hanya untuk cooling down (meredam)," ujar Susi.

Ia membantah pihaknya melakukan pengusiran terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Dia mengatakan, pihaknya hanya ingin menegakkan pengibaran bendera Merah Putih di asrama Papua, yang selama ini mereka tolak untuk memasangnya. "Tujuan kami untuk Merah Putih dan ternyata berdampak seperti itu, dan mungkin ada pihak lain yang sengaja mengondisikan," kata Susi.

Sementara itu, pihak TNI menyatakan, akan menyelidiki oknum yang berpakaian loreng-loreng khas TNI dalam video ujaran berbau rasis saat penggerebekan asrama Papua di Surabaya pada Jumat (16/8) lalu. Sejumlah pria berbaju loreng itu turut ada bersama sekelompok massa yang mengepung asrama.

"Di video tersebut, memang terlihat ada orang-orang pakai baju loreng, saat ini sedang dilaksanakan langkah-langkah pengecekan, apakah orang-orang tersebut anggota TNI atau bukan," kata Kepala Pusat Penerangan Daerah Militer V/Brawijaya, Letnan Kolonel Arm Imam Hariyadi saat dihubungi, kemarin.

Imam mengatakan, jika benar oknum yang ada dalam video tersebut adalah oknum TNI, yang bersangkutan akan ditindaklanjuti oleh polisi militer. "Kalau anggota TNI akan kita cek dari kesatuan mana dan pasti ditindaklanjuti prosesnya sesuai ketentuan," kata dia.

Dalam video yang beredar di media sosial, terdapat ujaran yang dilontarkan oleh sekelompok massa yang berada di luar Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Mereka mengatai mahasiswa di dalam asrama dengan sebutan “monyet”.

Ujaran itu kemudian memicu kericuhan yang terjadi di sejumlah kota, baik di Papua Barat maupun Papua. Sejumlah kota menjadi objek perusakan, misalnya Manokwari dan Sorong. Aksi protes juga terjadi di Merauke dan Jayapura.

Penggerebekan sendiri disinyalir terjadi karena adanya bendera Merah Putih di depan asrama yang terjatuh ke selokan. Hingga saat ini, belum diketahui pula siapa yang menyebabkan bendera Merah Putih itu masuk selokan.

Dalam rapat paripurna DPR kemarin, anggota DPR dari dapil Papua Steven Abraham meminta Polri dan TNI mengusut tuntas aparat yang diduga melontarkan ujaran rasialis kepada warga Papua saat penggerebekan asrama Papua di Surabaya.

“Bahwa kita lihat kemarin video yang beredar luas jelas-jelas sekali ada pihak oknum TNI Polri yang ikut menyerahkan kata-kata rasis, ini harus diusut, ditindak," ujar Steven dalam interupsi yang ia sampaikan saat Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (20/8).

Imbas kejadian itu, menurut Steven, sudah melebar ke berbagai daerah. Untuk itu, Steven pun meminta aparat bertindak cepat dalam mengusut segala aspek, mulai dari jatuhnya bendera Merah Putih, aksi rasialisme, hingga provokator kerusuhan. "Ini kalau tidak cepat kita tangani akan menimbulkan perpecahan yang luar biasa. NKRI yang sudah kita jaga bersama-sama harus kita junjung tinggi," ujar dia.

Sejauh ini, Polda Jatim masih melakukan penyelidikan untuk menemukan oknum yang diduga melakukan tindakan rasialisme itu. "Ini kita lagi selidiki dan sudah kita komunikasikan berita-berita ini dan kita ada pihak yang memang kita akan komunikasikan dengan instansi terkait (TNI)," kata Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan di Surabaya, Selasa (20/8).

Luki melanjutkan, selain menyelidiki video berisikan tindakan rasis yang viral, pihaknya akan meneruskan pemeriksaan insiden perusakan bendera di halaman asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Menurut Luki, sudah beberapa saksi dari mahasiswa Papua diperiksa di Mapolrestabes Surabaya. n dadang kurnia/arif satrio nugroho, ed: fitriyan zamzami

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA