Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Listrik Masuk ke Desa Pelosok di Sambas

Sabtu 24 Aug 2019 16:45 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas PLN saat melakukan pengecekan instalasi jaringan listrik di pemukiman padat penduduk, Tambora, Jakarta, Kamis (22/8).

Petugas PLN saat melakukan pengecekan instalasi jaringan listrik di pemukiman padat penduduk, Tambora, Jakarta, Kamis (22/8).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pada bulan September, warga pelosok Sambas merdeka dari kegelapan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Dusun Gayung Bersambut, Desa Selakau Tua, Kecamatan Selaku Timur, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, menyambut gembira pasokan listrik yang akan menjangkau dusun tersebut. Satu warga Dusun Gayung Bersambut, Hadi Yudiarto, Jumat (23/8) mengatakan untuk penerangan dan penggunaan peralatan listrik di malam hari, banyak warga menggunakan genset.

Baca Juga

Waktu penggunaannya pun sangat terbatas, hanya sekitar dua atau tiga jam saja. Hal itu dikarenakan biaya operasionalnya cukup tinggi. Lampu pelita menjadi solusi.

Selain itu, mahal jika menggunakan genset. Untuk membeli solar warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp 20 ribu per malam. Itupun hanya bisa dipakai untuk tiga jam saja.

"Belum lagi untuk biaya perawatan jika sesekali gensetnya rusak. Pastinya perbulan kami harus mengeluarkan biaya antara Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu. Bagi kami warga dusun pastinya terasa sangat berat," ucap Hadi.

Hadi dan beberapa warga lainnya betkomitmen mendukung masuknya listrik ke desa tersebut. Mereka bergotong-royong mengangkut material, juga rela pohon sawitnya harus ditebang karena dilalui jaringan listrik. Ada sekitar 60 batang sawit miliknya dari sekitar 500-an batang sawit milik warga yang ditebang.

Tidak ada tuntutan ganti rugi dari warga. Padahal sawit yang ada mayoritas sudah berproduksi atau sudah berumur sekitar enam sampai delapan tahun. Jika dikonversikan untuk ganti rugi diperkirakan warga yakni Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta per batang.

"Kami tidak mau ganti rugi, demi kepentingan bersama dan asal listrik masuk, kami ikhlas pohon sawit, karet dan lainnya ditebang tanpa ganti rugi," ucap Hadi.

Menurut General Manager PLN Unit Induk Wilayah Kalbar, Agung Murdifi, mengatakan, proses pembangunan jaringan listrik hampir selesai dan ditargetkan September 2019 masyarakat sudah dapat merasakan listrik.

Agung menyampaikan kendala terberat dan menjadi salah satu faktor daerah tersebut lama tersentuh listrik PLN adalah akses jalan.

"Jalan yang sempit dan jembatan yang ada tidak bisa dilalui oleh kendaraan yang memasukan material seperti tiang, trafo dan kabel listrik," kata Agung.

Namun, kata dia, pada 2019 ini tantangan yang ada terjawab dengan komitmen dan kerelaan warga yang bersedia untuk bergotong-royong mengangkut material. Masyarakat dengan rela dan ikhlas tanpa dibayar bahu membahu memikul tiang listrik agar bisa masuk ke dusunnya. Bahkan untuk menyeberang sungai melalui air, tiang harus diberi pelampung dan dibawa melalui sungai.

"Ini merupakan hal yang luar biasa. Saya mengapresiasi keikhlasan seluruh warga dalam membantu dan bersinergi dengan para pekerja dalam mensukseskan pelaksanaan proyek listrik desa tersebut," ungkap Agung.

Diakuinya, untuk mengalirkan listrik ke Dusun Gayung Bersambut, PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 8,586 kms dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 5,597 kms serta 2 unit gardu distribusi dengan total kapasitas sebesar 200 kVA. Keseluruhan pembangunan jaringan listrik menelan biaya sekitar Rp 2,8 miliar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA