Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Musim Hujan Diperkirakan Baru Turun Akhir November 2019

Ahad 25 Aug 2019 20:15 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Teguh Firmansyah

Bantuan air bersih Aksi Cepat Tanggap (ACT) disalurkan kepada warga yang kesulitan mengakses air bersih akibat musim kemarau di wilayah Jawa Tengah, Jumat (23/8). Sebanyak 270 ribu liter air bersih disalurkan untuk wilayah terdampak kekeringan di 10 daerah di Jawa Tengah.

Bantuan air bersih Aksi Cepat Tanggap (ACT) disalurkan kepada warga yang kesulitan mengakses air bersih akibat musim kemarau di wilayah Jawa Tengah, Jumat (23/8). Sebanyak 270 ribu liter air bersih disalurkan untuk wilayah terdampak kekeringan di 10 daerah di Jawa Tengah.

Foto: dok. ACT Jateng
BMKG mengimbau pemerintah untuk mengantisipasi kemarau panjang ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau akan berlangsung pada Agustus-September 2019. Namun, bukan berarti setelah Agustus musim kemarau akan berhenti.

Kabag Humas BMKG, Akhmad Taufan Maulana mengatakan lama waktu musim kemarau di wilayah di Indonesia tidak akan sama setiap daerah. Diperkirakan, hingga tiga bulan ke depan wilayah di Indonesia masih akan mengalami musim kemarau.

Berdasarkan data di BMKG juga dikatakan awal musim hujan rata-rata di daerah di Indonesia akan jatuh pada akhir November 2019 hingga awal Desember 2019.

"Agustus 2019 adalah puncak musim kemarau tahun ini. BMKG menyatakan musim kemarau akan lebih kering dibandingkan dengan tahun sebelumnya," kata Taufan menjelaskan.

Pantauan BMKG juga mengatakan hingga awal Agustus 2019, beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan yang ekstrem. Daerah yang tidak mengalami hujan lebih dari 60 hari antara lain adalah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Situasi musim kemarau yang lebih kering ini terjadi dipengaruhi oleh fenomena global seperti El Nino pada akhir 2018. Selain itu, situasi musim ini juga dipengaruhi oleh fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis, serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia. BMKG juga telah mengimbau kepada pemerintah daerah untuk mengantisipasi hal ini sehingga kebutuhan masyarakat tetap bisa terpenuhi. 


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA