Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Ridwan Kamil Menilai Desain Ibu Kota Baru tak Tepat

Senin 26 Aug 2019 15:16 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Teguh Firmansyah

Gubernur Jabar Ridwan Kamil

Gubernur Jabar Ridwan Kamil

Foto: Foto: Istimewa
Emil sebagai arsitek menyoroti ketidakseimbangan antara lahan dan penduduk.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendukung langkah pemerintah untuk membangun Ibu Kota baru. Apalagi, menurut Ridwan Kamil, jika wacana tersebut sudah menjadi pertimbangan eksekutif maupun legislatif.

Baca Juga

"Kalau sudah jadi pertimbangan pemerintah pusat yang namanya DPR (RI) saya kira kita dukung," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil kepada wartawan di Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Senin (26/8).

Namun, menurut Emil, sebagai arsitek, ia juga melihat desain dan asumsi ibu kota di dunia banyak yang kurang tepat. Hal tersebut menitikberatkan pada ketidakseimbangan antara lahan dan jumlah penduduk. "Misalnya 200 ribu hektare untuk 1,5 juta penduduk, menurut saya itu boros lahannya," katanya. 

Emil mecontohkan, luas tanah yang terlalu luas tersebut di antaranya terjadi di Brazil dan Myanmar. Berbeda dengan Ibu Kota Amerika Serikat Washington DC yang berdiri di atas lahan  17 ribu hektare dengan jumlah penduduk 700 ribu jiwa. 

"Kalau mau contoh baik tirulah washington DC fukup dengan 17 ribu lahan untuk 700 ribu orang, dengan kota padat, bisa jalan kaki nyaman, jangan mengulangi kesalahan segala harus lahan luas," papar Emil. 

photo
Presiden Joko Widodo mengumumkan pemindahan ibukota negara di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (26/8).

Emil menegaskan, Washington DC di Amerika Serikat adalah representasi Ibu Kota yang paling tepat. Saat ditanya tentang soal City Forest yang digadang-gadang akan menjadi konsep Ibu Kota baru, Emil mengatakan, yang menjadi permasalahan justru masalah keseimbangan luas dan jumlah penduduk.

Terlebih, masyarakat menginginkan serba jarak dekat jika hendak menuju sebuah lokasi.  "Jika semua konsepnya harus jarak jauh konsekuensinya mahal infrastruktur. Berarti trotoar harus lebih panjang, jalan banyak, maka belajar dari kesalahan negara lain, tirulah yang baik, dari kajian saya itu," tegas Emil.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA