Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Ridwan Kamil Nilai Lahan Ibu Kota Baru Terlalu Luas

Senin 26 Aug 2019 16:03 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Esthi Maharani

(Dari kiri) Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Kaltim Isran Noor, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, berfoto bersama seusai memberikan keterangan pers terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).

(Dari kiri) Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Kaltim Isran Noor, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, berfoto bersama seusai memberikan keterangan pers terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Lahan yang terlalu luas akan membuat pemborosan infrastruktur

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) mendukung pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur. Namun, sebagai arsitek, Emil merasa ada yang kurang tepat terutama dari desain ibu kota. Ia menilai lahan untuk ibu kota yang baru terlalu luas.

"Misalnya 200 ribu hektare untuk 1,5 juta penduduk, menurut saya itu boros lahannya," katanya, Senin (26/8).

Ia menjelaskan apabila dihuni 1,5 juta maka tanahnya 35 hektare. Namun jika jumlah penduduknya hanya 1,5 juta jiwa, tanahnya 200 ribu hektare maka terlalu luas. Hal ini akan menjadi pemborosan terutama dalam hal infrastruktur seperti aspal hingga utilitas untuk mengakomodasi penduduk.

Emil mecontohkan, ibu kota yang terlalu luas lahannya terjadi di Brasil dan Myanmar. Sementara perpindahan ibu kota yang sesuai dan tepat adalah Washington DC.

"Kalau mau contoh baik tirulah Washington DC cukup dengan 17 ribu lahan untuk 700 ribu orang, dengan kota padat, bisa jalan kaki nyaman. Jangan mengulangi kesalahan segala harus lahan luas," papar Emil.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA