Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Madiun Larang Warganya Buang Popok dan Pembalut ke Sungai

Selasa 27 Aug 2019 06:15 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Popok bayi

Popok bayi

Foto: Republika/Niken Paramita Wulandri
Popok dan pembalut termasuk sampah plastik yang berbahaya jika dibuang ke sungai.

REPUBLIKA.CO.ID, MADIUN -- Pemerintah kota (Pemkot) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun, Jawa Timur melarang masyarakat setempat membuang sampah popok dan pembalut wanita ke sungai karena dapat mencemari lingkungan. Kepala DLH Kota Madiun Suwarno mengatakan, popok dan pembalut yang dibuang di aliran sungai sangat berbahaya.

Tidak hanya memengaruhi kualitas air sungai, menurut Suwarno ikan yang hidup di dalamnya juga ikut terpapar. Jika keadaannya telah parah, ikan yang tercemar tersebut paparan sampahnya dapat masuk ke tubuh manusia yang memakannya. Hal tersebut dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker.

"Dampaknya memang tidak langsung. Bisa saja akan muncul pada 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Plastik membutuhkan waktu lama untuk terurai," ujar Suwarno di Madiun, Senin.

Selain di sungai, sampah popok dan pembalut wanita juga menjadi masalah tersendiri saat dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) Winongo.

"Kami sering menemukan sampah popok dan pembalut dibuang begitu saja tanpa dibersihkan ataupun dikumpulkan dalam satu kantong," katanya.

Selain dianggap menjijikkan, menurut Suwarno, sampah tersebut juga sulit dikelola. Untuk itu, pihaknya meminta warga Kota Madiun agar membuang sampah popok dan pembalut dengan benar, yakni dengan mengumpulkan menjadi satu dalam kantong tersendiri. Lebih baik lagi jika sampah-sampah tersebut telah dibersihkan.

Suwarno mengatakan, sampah popok dan pembalut tergolong dalam sampah plastik. Sesuai data, jumlah sampah warga Kota Madiun yang masuk ke TPA setempat telah mencapai 110 ton lebih setiap harinya.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan sampah plastik. Sampah-sampah tersebut terbanyak berasal dari masyarakat dan lingkungan sekitar TPA. Selain itu juga sampah yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Kota Madiun.

Guna mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, terlebih sampah plastik, pihaknya meminta warga melakuan pengelolaan yang benar terhadap sampah rumah tangganya, yakni dengan memilah antara sampah organik dengan anorganik atau plastik.

Pihaknya juga melibatkan tenaga pengelolaan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada di tiap kelurahan dan TPA sendiri. Dengan pengelolaan sampah yang baik, diharapkan daya tampung TPA Winongo di Kota Madiun yang saat ini telah terpakai 80 persen dari kapasitasnya dapat ditambah.



sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA