Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Aceng Fikri akan Lapor ke Komnas Perempuan

Selasa 27 Aug 2019 21:26 WIB

Red: Andri Saubani

Aceng Fikri

Aceng Fikri

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Aceng tidak terima tindakan aparat Satpol PP saat melakukan razia terhadap dirinya.

REPUBLIKA.CO.ID,  GARUT -- Anggota DPD, Aceng Fikri akan melaporkan kasus razia hotel oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung, Jawa Barat, yang menimpanya bersama istri, ke Komisi Nasional (Komnas) Perempuan. Ia tidak terima tindakan aparat Satpol PP saat melakukan razia.

"Ya akan saya laporkan ke Komnas Perempuan, melaporkan saja akibat peristiwa itu, karena perlakuan pada malam itu istri saya jadi trauma," kata Aceng Fikri saat jumpa pers di Kabupaten Garut, Selasa (27/8).

Ia menuturkan, saat menginap bersama istrinya Siti Elina Rahayu di salah satu hotel di Kota Bandung, Kamis (22/8) malam, tiba-tiba datang petugas dari Satpol PP melakukan razia terhadap penghuni hotel. Tindakan Satpol PP yang cenderung arogan itu, kata dia, belum dapat diterima, sehingga akan melaporkannya ke Komnas Perempuan termasuk meminta pertanggungjawabannya kepada Wali Kota Bandung.

"Dampak dari itu istri saya sampai sekarang merasa trauma, bahkan waktu kejadian itu istri saya tidak bisa tidur karena masih takut," katanya.

Ia menyampaikan, upaya melaporkan kejadian itu ke Komnas Perempuan agar ada teguran kepada Pemerintah Kota Bandung. Sehingga, tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban perlakuan tidak wajar oleh Satpol PP.

"Kami memohon semacam teguran, kepada pemkot supaya tidak terjadi perempuan lain atau istri-istri lainnya, seperti yang dialami istri saya," katanya.

Aceng mengungkapkan, saat razia oleh Satpol PP Kota Bandung, ia diminta menunjukkan identitas diri, kemudian digeledah seluruh barang yang ada dalam kamar. Selain itu, lanjut dia, dibawa menggunakan truk bersama perempuan dan laki-laki lain yang terjaring dalam razia tersebut, lalu diperiksa di kantor Satpol PP Kota Bandung.

"Saya minta untuk pakai mobil saya sendiri, tapi tidak boleh, akhirnya saya pakai truk keliling kota, lalu diperiksa di kantor, dan pulangnya saya pakai Grab (transportasi daring)," kata mantan Bupati Garut itu.

Sementara itu, istri Aceng, Siti mengatakan, peristiwa itu menyedihkan, apalagi harus ikut naik truk bersama dengan orang yang diamankan oleh petugas Satpol PP. Selain itu, Siti mengaku digeledah oleh petugas perempuan, termasuk seluruh barang bawaan, bahkan telepon seluler diambil paksa petugas.

"Bahkan saat saya haus minta izin beli minum tidak diperbolehkan, saya di truk sesak napas, karena petugas banyak yang merokok," katanya.

Ia mengungkapkan, sebagai perempuan merasa dilecehkan dengan tindakan Satpol PP tersebut, untuk itu akan melaporkan kejadian tersebut ke Komnas Perempuan. "Setelah diperiksa pun mereka tidak minta maaf, sampai sekarang saya belum terima, baru pertama kali diperlakukan seperti ini," katanya.

Kepala Satpol PP Kota Bandung Rasdian Setiadi menegaskan, pihaknya sudah menjalankan razia sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Apalagi, razia tersebut merupakan operasi gabungan bersama instansi lainnya seperti TNI dan kepolisian.

"Satpol PP sudah menjalankan sesuai SOP. Itu kan operasi gabungan pasti ada surat tugasnya, kita juga nggak sembarangan," kata Rasdian saat dihubungi Republika.co.id, Senin (26/8).

Ia menegaskan, petugas menjalankan tugas sesuai dengan tupoksinya. Petugas saat menemukan Aceng Fikri bersama wanita di dalam kamar hotel langsung mengecek identitas yang bersangkutan. Petugas bahkan tidak tahu bahwa yang bersangkutan adalah pejabat.

Karena identitas yang tidak sesuai, tambahnya, sesuai aturan yang bersangkutan dibawa ke kantor untuk diperiksa. Saat diperiksa diketahui bahwa orang tersebut adalah Aceng Fikri bersama istrinya yang baru dinikahinya sehingga alamat dalam kartu identitasnya tidak sama.

"Kita tahunya (Aceng Fikri) saat beliau  sampai ke kantor. Kami bahkan memisahkan beliau dengan yang lainnya saat memberikan keterangan. Setelah menunjukkan buktinya kami sampaikan juga permohonan maaf kalau tidak nyaman. Tapi memang prosedurnya seperti itu," tuturnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA