Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Upaya Tumbuh Literasi Lewat One Family One Home Library

Kamis 29 Aug 2019 21:19 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sejumlah anak membaca buku di perpustakaan keliling pada acara Festival Literasi 2019 di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (20/4)

Sejumlah anak membaca buku di perpustakaan keliling pada acara Festival Literasi 2019 di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Sabtu (20/4)

Foto: Abdan Syakura
Kesadaran membuat home library menjadi upaya menumbuhkan literasi dan SDM

Di Era Digital, saat ini kita dihadapkan dengan kemudahan akses informasi dengan ragam tekhnologi yang ada, tak terkecuali melalui media tekhnologi gadget. Yang memberikan ragam fasilitas kemudahan hingga tak hanya diakses oleh orang dewasa saja namun anak-anak pun juga mampu mengakses gadget. Hingga tak sedikit anak–anak yang pada akhirnya kecanduan gadget.

Hal ini menjadi keprihatinan kita, karena menurut para ahli selain perkembangan interaksi sosial menjadi terhambat, kesenangan yang didapat dari kecanduan gadget juga dapat membuat anak-anak menghindar dari tanggung jawab dan tugas mereka. Termasuk bagaimana gadget, mampu menjadi penghambat perkembangan tumbuh kembang anak, menurut Associate Professor of Paediatrics di Bangkok, Dr Rawat Sichangsirikarn mengatakan ketika para orangtua mengizinkan anak-anak mereka menggunakan teknologi gadget, termasuk ponsel atau tablet untuk jangka waktu yang lama. Hal tersebut akan menimbulkan bahaya gadget bagi anak. Screen time yang berlebihan dapat menimbulkan risiko serius pada kesehatan fisik maupun mental anak.

Disisi lain yang membuat kita prihatin adalah rendahnya minat baca dan literasi masyarakat Indonesia Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Mengutip dap.bulelengkab.go.id,  berdasarkan indeks nasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01. Sedangkan rata-data indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Latar belakang diatas menjadi sense of crisis bagi penulis untuk mengedukasi dan mengkampanyekan setiap keluarga di Era Digital saat ini mempunyai home library (perpustakaan rumah) sebagai upaya menumbuhkan cinta literasi keluarga juga upaya menstimulus bagi ananda cinta literasi sejak dini. Dengan adanya home library maka akan menumbuhkan pada keluarga habit positif membaca dan memperkaya literasi.

Dan home library ini yang selama 5 tahun saya bangun bersama keluarga, memiliki buku-buku dengan ragam genre, yang menjadi kebiasaan bagi saya, suami juga anak-anak untuk membaca dan memperkaya diri dengan banyak literasi.

Maka banyak sekali benefit ,yang saya dapatkan dari membangun kecintaan literasi dengan adanya home library di rumah, diantaranya pada anak yang terbiasa setiap hari selalu membaca buku. Anak juga tidak tertarik gadget karena saya pribadi juga menerapkan regulasi no gadget di rumah.

Dengan adanya kesadaran tiap keluarga membuat home library (perpustakaan rumah) maka menjadi salah satu upaya sadar meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Bangsa Indonesia.

Menurut penulis,membangun kesadaran cinta literasi pada keluarga menjadi aspek terpenting, sebelum melangkah pada masyarakat. Karena keluarga adalah madrasah pertama membangun peradaban dan juga manusia yang berbudi luhur,yang berwawasan luas.

Keluarga menjadi pilar utama mengentaskan rendahnya minat baca di masyarakat. Maka upaya edukasi utama agar terbangun kesadaran paripurna atas pentingnya literasi adalah dimulai dari keluarga.

Termasuk bagaimana menyelesaikan problem kecanduan gadget pada anak,oleh karena itu,membangun kecintaan literasi keluarga,menurut penulis adalah membangun habit bersama cinta literasi dengan program setiap keluarga memiliki home library (perpustakaan keluarga).

Program home library keluarga memiliki banyak benefit di Era Digital yang mampu menjadi media meningkatkan spirit membaca pada tiap keluarga. Karena setiap keluarga pada akhirnya akan bisa mengagendakan waktu untuk membaca bersama,meskipun hanya 30 menit. Namun impact-nya begitu besar dalam membangun generasi dan kualitas SDM Indonesia.

Menurut penulis,program home library (perpustakaan rumah) bisa menjadi bagian program wajib pemerintah sebagai upaya peningkatan mutu dan kualitas SDM. Pemerintah mampu lebih luas mengedukasi semua warga agar mulai membangun habit membaca dalam keluarga. Salah satunya dengan mengagendakan one family one home library  ( satu keluarga satu home library).

Gerakan ini,harapan penulis bisa secara nyata didukung oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas cinta literasi di masyarakat. Penulis mengutip hasil penelitian q  Dr. Mariah D.R. Evans, Associate Professor di Department of Sociology, College of Liberal Arts (CLA) dan Coordinator of the Applied Statistics Program (APST), telah melakukan penelitian di 42 negara untuk membandingkan keluarga yang tumbuh dengan adanya perpustakaan kecil di rumahnya dan yang tidak.

Menurut Dr Mariah adanya home library ( Perpustakaan rumah ) akan mampu Mengurangi stres karena membaca selama satu hingga tiga jam dalam sehari, akan membantu otak Anda menjadi lebih rileks. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Mariah melalui penelitiannya. Ia pun menyarankan, ruangan tersebut harus didukung oleh situasi yang menenangkan seperti pemilihan warna cat tembok, dekorasi, dan sebagainya.

Tidak hanya itu home library Mendukung Prestasi Akademik Anak menurut Dr. Maria bahwa “Regardless of how many books the family already has, each addition to the home library helps children do better (on the standard test),” Penelitian Dr Maria ini ia lakukan pada remaja usia 15 tahun yang tumbuh dengan ruang membaca di rumahnya dan yang tidak.Selain itu menurut Dr Maria home library akan Meningkatkan Kreativitas dan Tempat Berkomunikasi Yang Baik. 

Maka dengan latar belakang yang telah penulis paparkan,semoga gerakan one family one home library mampu menginspirasi juga mampu meningkatkan tingginya minat baca dan cinta literasi di berbagai elemen masyarakat sehingga mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang memiliki kecintaan tinggi pada literasi serta mampu menjadikan Indonesia negara mandiri dan terdepan.

Pengirim:  Hardita Amalia, SPdI, MPdI, Mom of Two, Penulis Buku Anak Muda Keren Akhir Zaman Penerbit Qibla Gramedia, Peneliti anggota ADPIKS, Pemerhati Pendidikan, Konsultan Parenting , Dosen, Founder Sekolah Ibu Pembelajar

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA