Monday, 8 Rabiul Akhir 1442 / 23 November 2020

Monday, 8 Rabiul Akhir 1442 / 23 November 2020

Istana Belum Terima Laporan 6 Warga Papua yang Tertembak

Rabu 28 Aug 2019 19:32 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Indira Rezkisari

Wajah pengunjuk rasa digambar bendera kejora di aksi dekat Istana, Rabu (28/8). Aksi dilakukan oleh mahasiswa Papua Barat sebagai protes atas insiden rasis.

Wajah pengunjuk rasa digambar bendera kejora di aksi dekat Istana, Rabu (28/8). Aksi dilakukan oleh mahasiswa Papua Barat sebagai protes atas insiden rasis.

Foto: AP
Pemerintah tidak ingin emosional tanggapi upaya provokasi di Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Staf Presiden Moeldoko mengaku belum menerima laporan perinci soal bentrokan yang terjadi di Deiyai, Papua. Hingga Rabu (28/8) petang, laporan yang masuk dari Pangdam Cenderawasih dan Panglima TNI menyebutkan bahwa korban meninggal satu orang dari aparat TNI dan dua orang dari aparat kepolisian. Sementara laporan dari media asing yang menyebutkan bahwa ada enam warga Papua yang tewas tertembak, Moeldoko mengaku belum mendapat laporan.

"Sementara dari Pangdam tadi, karena Pangdam dengan Panglima TNI baru turun dari pesawat, sementara jawabannya seperti itu. Belum ada laporan," kata Moeldoko di kantornya, Rabu (28/8).

Moeldoko juga melihat adanya upaya provokatif dari kelompok bersenjata di Papua terhadap aparat bersenjata Indonesia. Sejalan dengan pengibaran bendera bintang kejora di seberang Istana Merdeka siang tadi, bentrokan yang terjadi di Deiyai juga diyakini upaya kelompok bersenjata untuk 'memancing' tindakan keras dari aparat TNI atau Polri.

"Tapi beritanya sudah sampai di Reuters, enam masyarakat sipil diberondong oleh aparat keamanan. Ini memang ada upaya masih pembentukan opini di luar yang dilakukan. Dan konfirmasi kebenarannya masih belum jelas," kata Moeldoko.

Moeldoko juga menyebutkan, pemerintah tidak ingin emosional menanggapi upaya provokasi yang dilakukan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Mantan panglima TNI ini menilai, ada skenario yang sengaja dibangun untuk memancing tindakan keras dari pemerintah Indonesia, khususnya dari aparat keamanan baik TNI atau Polri. Namun, Moeldoko menegaskan, pemerintah tidak ingin terbawa provokasi tersebut.

"Kita itu bermain di batas psikologi. Jadi, kita juga harus ukur dengan baik. Kita juga tidak boleh emosional. Karena kalau kita ikut larut dalam emosi maka langkah tindakan menjadi tidak terkontrol," kata Moeldoko.

Ia menyampaikan, gejolak tentang Papua belakangan ini memang ditunggangi oleh provokator yang ingin memecah persatuan Indonesia. Gerakan ini dilakukan baik oleh kelompok bersenjata atau poros politik yang memiliki tujuan serupa. Kelompok ini, ujar Moeldoko, gerah dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang sedang gencar melakukan pembangunan di Tanah Papua.

"Kecemasan yang dihadapi oleh mereka adalah dia tak bisa lagi membohongi rakyat. Dia tidak bisa lagi membohongi dunia luar bahwa Papua itu begini, begini," ujar Moeldoko.

Siang tadi, puluhan massa yang menggelar aksi di seberang Istana Merdeka sempat meminta Presiden Jokowi untuk menemui mereka. Puluhan mahasiswa asal Papua ini menuntut adanya referendum bagi Papua.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA