Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Gagasan One Pesantren One Produk Diapresiasi Maruf Amin

Jumat 30 Aug 2019 19:32 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Maruf Amin membaca koran di rumahnya, Jakarta.

Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Maruf Amin membaca koran di rumahnya, Jakarta.

Foto: Antara
Maruf Amin ingin pesantren di Indonesia mendapatkan pendidikan vokasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wakil Presiden (Wapres) RI terpilih 2019-2024, Prof Dr (HC) KH Maruf Amin, ingin pesantren di Indonesia mendapatkan pendidikan vokasi. Karena, ia ingin pesantren melahirkan banyak santripreneur atau usahawan.

Maruf Amin pun, mengapresiasi upaya Gubernur Jawa Barat Jabar yang sudah membuat banyak wirausaha di pesantren. Serta, membangun banyak SMK, akademi, komunitas wirausahawan di pesantren.

"Kalau banyak santripreneur,  Ini tanda akan ada perubahan-perubahan ke depan. Santri-santri NU akan menjadi pengusaha kelas menengah baru berarti ekonomi umat islam akan semakin kuat. Karena, diisi pengusaha menengah baru dari kalangan NU," paparnya.

Maruf Amin menilai, program One Pesantren One Produk yang dibuat oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil, sangat bagus. Ia berharap, NU bisa mengambil peran bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jabar dalam hal ini, Gubernur Jabar dalam program tersebut. Jadi, di desa akan ada satu desa satu produk.

Menanggapi pernyatan Maruf Amin ini, Ridwan Kamil mengatakan, ia menggagas arus baru ekonomi Indonesia. Yaitu ekonomi keumatan dimaksimalkan. Jabar, menerjemahkan keumatan lewat One Pesantren One Produk (OPOP).

"Saat ini, OPOP jumlahnya sudah ratusan," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil.

Selain itu, menurut Emil, ia pun membuat program kredit mesra berbasis rumah ibadah. Tahun ini, ditambah Rp 120 miliar untuk permodalan. Ekonomi ini, diharapkan mengurangi ketimpangan. "Dan ekonomi Indonesia, ekonomi pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semua pihak dapatkan akses sesuai proporsinya," katanya.

Menurut Emil, dengan OPOP ini, setiap pondok pesantren akan didorong untuk memproduksi produk yang berbeda-beda, sesuai dengan potensi dan kekhasan masing-masing. Selanjutnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan pasar dan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang akan membeli produk tersebut.

"Kita akan carikan pembelinya. Tidak akan membiarkan pesantren membikin produk tanpa tahu akan dijual ke mana," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA