Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Kisah Juragan Tebu yang Mendirikan Pesantren

Jumat 23 Aug 2019 16:46 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Agung Sasongko

Santri

Santri

Foto: Republika/Yasin Habibi
Pada 2010, Pesantren Nurul Huda pun didirikan.

REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN --- Dulu komplek Ciparay Indah sebuah pemukiman warga di Desa Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan  belum seramai sekarang. Dulunya kompek ini merupakan perkampungan kecil yang dihuni  beberapa rumah warga. Terdapat sebuah mushola kecil yang berdiri di tengah perkebunan di kampung itu.

Mushola itu didirikan oleh seorang juragan tebu yakni Haji Saja’ Saefuddin atau akrab disapa Abah Saja’. Abah Saja’ satu-satunya tokoh agama yang ada di kampung itu berupaya mengajak warga kampung untuk bisa melaksanakan sholat secara berjamaah di mushola itu. Namun hanya segelintir saja warga kampung Ciparay yang tergerak dengan ajakan Abah Saja’. Mushola itu pun terus sepi.

Baca Juga

“Dulu orang lewat ke sini saja takut karena sepi, wilayah ini kan tadinya kebun-kebun, tapi sekarang ramai sudah ada masjid,” tutur Nyai Hj. Aam Siti Aminah pengasuh pesantren Nurul Huda Ciparay, Ciawi Gebang saat berbincang dengan Republika,co.id pada Jum'at (23/8).

Abah Saja’ pun prihatin melihat kondisi mushola dan perkampungan yang sepi dari aktivitas keagamaan. Pada akhirnya, Abah Saja’ bersama istrinya Hj. Rohani memutuskan untuk mewakafkan tanah dan menyedekahkan tabungan hasil bisnis tebunya selama bertahun-tahun untuk pembangunan pesantren.

Ia pun meminta KH Ade Muhammad Ridwan seorang ulama di Desa Sidaraja, Ciawi Gebang untuk membantunya menghidupkan kampung Ciparay. Kampung itu pun kian hari semakin ramai. Banyak santri yang mengaji di mushola yang dibangun oleh Abah Saja’.

Karena sudah tak dapat menampung santri, Abah Saja’ pun akhirnya merenovasi bangunan mushola itu dan menjadikannya sebagai masjid. Abah Saja’ pun membangun beberapa kamar untuk santri-santri mukim.

“Abah haji itu terus semangat membangun dengan melihat santri terus bertambah bertambah. Lama-lama di sini pun ramai,” kata Nyai Aam.

Pada 2010, Pesantren Nurul Huda pun didirikan, kendati demikian pembangunannya berlangsung bertahap. Keberadaan pesantren pun membawa dampak positif bagi perkampungan itu. Kampung Ciparay yang tadinya sepi berubah menjadi ramai.

Banyak warga pendatang pun akhirnya mendirikan pemukiman di wilayah itu. Kini, kampung Ciparay pun telah berubah drastis menjadi komplek perumahan yang ramai dengan aktivitas keagamaan yang kerap diselenggarakan pesantren. Andrian Saputra

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA